Pandemi Covid-19 dan Politik Global

Oleh : Anak Agung Banyu Perwita | Senin, 06 April 2020 - 11:35 WIB

Anak Agung Banyu Prawita Guru Besar President University
Anak Agung Banyu Prawita Guru Besar President University

INDUSTRY.co.id - Memasuki bulan kelima di tahun 2020 ini, pandemi Covid 19 kini sudah menjangkiti setidaknya 203 negara di seluruh dunia. 

Nyaris tidak ada satu wilayah pun di dunia yang tidak terpapar Covid 19. Kondisi ini tentunya sangat berdampak pada politik global. 

Sejak munculnya pandemi ini, di satu sisi telah mengemuka komitmen kerjasama yang lebih tinggi baik di tingkat individu, kelompok masyarakat lokal, regional dan global. 

Namun di sisi lain, pola interaksi konflik terus terjadi di antara negara-negara besar. 

Tatkala pandemi ini muncul, misalnya, AS dan China saling menuduh bahwa masing-masing negara lah yang menjadi penyebab penyebaran penyakit ini ke seluruh pelosok dunia. 

Presiden Donald Trump dalam beberapa kesempatan menyebutkan bahwa virus Covid 19 ini sebagai “Virus China”. 

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo bahkan menyebutnya sebagai “Virus Wuhan. Pernyataan ini tentunya telah membuat Beijing marah terhadap Washington. 

Sementara itu, sebagaimana dilaporkan berbagai media internasional dan nasional, Pemerintah China melalui Duta Besar nya di Washington dan juru bicara Kementerian Luar negerinya, juga menuduh balik AS sebagai penyebar pandemi global ini. 

Zhao Lijian, juru bicara kementerian Luar Negeri China, menyatakan bahwa justru AS lah yang telah menyebarkan virus ini melalui partisipasi tentara AS dalam sebuah kompetisi militer internasional yang diselenggarakn di Wuhan Oktober 2019 lalu. 

Kompetisi militer internasional ini sendiri diikuti oleh setidaknya 100 negara.
Kendati pun, perselisihan dan konflik di atas mulai mereda setelah Presiden Donald Trump menelpon President China, Xi Jinping untuk melakukan kolaborasi guna penanggulangan Covid 19 ini, dunia masih menyaksikan konflik tak berkesudahan antara AS dan China. 

Konflik kedua negara besar ini kini menjelma sebagai salah satu persoalan utama dalam politik global kontemporer. 

Kedua negara masih terlibat dalam perang dagang yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda untuk mereda.

Hubungan kedua negara juga semakin rumit dan tentunya akan memiliki dampak besar pada konstelasi politik global apabila kedua negara tidak dapat melakukan rekonsiliasi terhadap pola interaksi mereka selama ini.

Sebagaimana dilaporkan jurnal Foreign Affairs, kedua negara juga terlibat dalam perebutan posisi sebagai pemimpin global. 

Kurt Campbell dan Rush Doshi dalam tulisan yang bertajuk “The Coronavirus Could Reshape Global Order” (Foreign Affairs, 18 March 2020) menyatakan bahwa AS telah kehilangan posisinya sebagai pemimpin dunia karena ketidakmampuannya dalam mengelola slogan “America First” dalam penanganan Covid 19 di dalam negerinya sendiri. 

Sedangkan China menurut kedua penulis akan secara perlahan menjadi pemimpin dunia karena kepiawaiannya dalam menangani Covid 19 di dalam negerinya. 

China bahkan turut berkontribusi tinggi dalam membantu negara-negara lain di berbagai kawasan (Eropa, Afrika, dan Asia) dunia dalam menanggulangi dan menghentikan penyebaran pademi global ini. 

Tentu saja bantuan China ini disambut hangat dunia. 

Dalam konteks ini, China berhasil memainkan berbagai instrumen kekuatan nasionalnya dalam politik global secara simultan dan terarah. 

Sebagaimana diungkapkan oleh Stacie Goddard dan Daniel Hexon dalam artikelnya “The Dynamics of Global Power Politics: A framework for Analysis” (2016), instrumen kekuatan nasional  dapat dibagi ke dalam  lima instrumen utama, yaitu: 

(1) Instrumen militer yang berupa penggunaan kekuatan militer, termasuk di dalamnya penjualan dan perdagangan senjata baik konvensional dan non-konvensional (nuklir, biologi dan kimia)

(2) Instrumen ekonomi berupa pemanfaatan kekuatan industri, hubungan dagang, sanksi ekonomi, investasi dan pinjaman luar negeri

(3) Instrumen diplomasi berupa kemampuan persuasi dan negosiasi

(4) Instrumen budaya yang merujuk pada penggunaan kekuataan nilai-nilai budaya; dan 

(5) Instrumen Simbolis (symbolic), berupa penggunaan propaganda dan pertukaran “best practices” dalam menangani suatu isu non-tradisional termasuk di dalamnya isu kesehatan global . 

Instrumen ini pada era politik global juga akan memanfaatkan penggunaan media sosial media yang secara signifikan dapat mempengaruhi cara pandang suatu masyarakat suatu negara terhadap negara lain.

Menggunakan kerangka analisa di atas, sejauh ini China memang telah berhasil memanfaatkan hampir seluruh instrumen di atas dalam interaksinya dalam konteks regional dan global dalam menghadapi pademi global Covid 19 ini. 

China misalnya sangat menyadari bahwa dunia sangat bergantung pada kekuatan industri kesehatannya dalam menghasilkan berbagai peralatan dan perlengkapan keehatan untuk menghadapi Covid 19. 

Dengan demikian, China bahkan sudah menjadi kekuatan utama dalam memasok semua kebutuhan industri kesehatan global. 

Dengan demikian, industri peralatan kesehatan (medical equiment) kini telah menjelma menjadi instrumen baru kebijakan luar negeri China dalam politik global. 

Sebagai konsekwensinya, kepercayaan masyarakat global pun terhadap kedibilitas dan posisi global China juga semakin tinggi. 

Akahkah China sungguh-sungguh akan mengantikan kepemimpinan global AS dan menjadi pemimpin baru dunia dalam konstelasi politik global kontemporer? 

Time will tell….

Penulis adalah Anak Agung Banyu Perwita
Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional, 
President University

Komentar Berita

Industri Hari Ini

BP-AKR Membagikan Paket Alat Pelindung Diri Bagi Tenaga Medis di Beberapa Rumah Sakit Jakarta dan Surabaya

Minggu, 31 Mei 2020 - 10:30 WIB

BP-AKR Dukung Tenaga Medis di Tengah Pandemi Covid-19

PT. Aneka Petroindo Raya (BP-AKR) yang merupakan perusahaan joint venture antara bp dan AKR membagikan bantuan kepada tenaga medis di beberapa rumah sakit yaitu Rumah Sakit Citra Harapan di…

Bendungan Pidekso Wonogiri

Minggu, 31 Mei 2020 - 10:20 WIB

Terus Digenjot, Pembangunan Bendungan Pidekso Wonogiri Telah Mencapai 85 Persen

Bendungan Pidekso merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di bidang Sumber Daya Air untuk mewujudkan ketahanan air dan pangan nasional.

Ilustrasi Tenaga Medis Covid-19 (ist)

Minggu, 31 Mei 2020 - 10:15 WIB

Catat, Pasien Positif Covid-19 Tembus 25.773, Pemerintah: Dibanding 33 Provinsi Lain, Penambahan Kasus di Jatim Tertinggi

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto menjelaskan bahwa berdasarkan data yang dihimpun Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Pemerintah mencatat jumlah akumulasi kasus…

PT. Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) (“Bahana”) Holding Perasuransian dan Penjaminan

Minggu, 31 Mei 2020 - 10:00 WIB

Semangat Pancasila Jadi Dasar Pelaksanaan 'New Normal' di Holding Asuransi dan Penjaminan

Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2020 merupakan perayaan lahirnya Pancasila yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena saat ini dirayakan ditengah diberlakukan…

Galaxy A11 Tampak Belakang White

Minggu, 31 Mei 2020 - 09:55 WIB

Andalkan Fitur Kekinian, Samsung Galaxy A11 Dibanderol Hanya Rp 1.999.000 Pada Flash Sale

Samsung Electronics Indonesia kembali meluncurkan varian terbaru keluarga Galaxy A series, yakni Galaxy A11. Smartphone yang dirancang untuk Gen Z yang dilengkapi dengan beragam fitur esensial…