INDUSTRY.co.id - Semua makhluk hidup secara alamiah memiliki kemampuan beradaptasi menyesuaikan diri dengan perubahan di lingkungannya. 

Advertisement

Namun manusia sebagai ciptaan Tuhan tertinggi tentunya memiliki kemampuan adaptasi yang paling baik dibandingkan mahkluk lain. 

Pada awalnya kemampuan beradaptasi ini digunakan untuk bertahan hidup dan kemampuan inilah yang membuat manusia mampu bertahan dalam situasi yang sulit sekalipun.

Advertisement

Dalam dunia manajemen, kemampuan adaptasi ini bertransformasi tidak hanya untuk bertahan hidup, namun telah menjadi agility, yang sering diterjemahkan sebagai kelincahan atau kegesitan menghadapi perubahan lingkungan. 

Perusahaan, semua pimpinan bahkan semua karyawan harus memiliki agility ini dalam menghadapi dinamika perubahan yang ada. 

Advertisement

Secara umum, perubahan ini dapat disebabkan karena adanya perubahan internal, seperti perubahan direksi yang menyebabkan perubahan budaya organisasi yang menuntut karyawan untuk memiliki agility, yaitu kelincahan beradaptasi menyesuaikan dengan pimpinan baru. 

Banyak karyawan senior yang telah bekerja puluhan tahun di sebuah perusahaan tiba-tiba mengeluh panjang lebar karena tongkat estafet kepimpinan berubah dari pimpinan lama, yaitu ayah dari pimpinan saat ini, dengan pendekatan kekeluargaan telah berubah, di tangan sang anak, yang baru saja pulang dari Amerika dengan gelar MBA dan melakukan perubahan besar-besaran dan dipersepsikan “lebih keras dan tidak kekeluargaan”.

Advertisement

Tanpa memiliki agility, maka karyawan senior tersebut akan semakin tersiksa dan akhirnya tidak dapat mengikuti perubahan organisasi. 

Perubahan juga bisa muncul disebabkan faktor eksternal, misalnya karena wabah, perubahan budaya, teknologi dan persaingan yang telah banyak dibahas dalam banyak buku popular. 

Semua faktor ekternal itu bisa berdiri sendiri-sendiri sebagai faktor ekternal ataupun saling berkaitan satu dengan yang lainnya. 

Tulisan ini lebih fokus kepada faktor perubahan eksternal dikarenakan wabah atau pandemi seperti kasus virus corona ini yang telah merubah model bisnis yang ada. 

Sebagai contoh, setelah adanya kebijakan untuk bekerja dan beraktivitas di rumah karena virus corona, maka banyak resto mahal dengan segmen atas merubah layanannya menjadi layanan antar ke rumah, yang sebelumnya hanya dilakukan resto cepat saji atau resto menengah. 

Langkah yang sama juga dilakukan supermarket yang selama ini segmennya kelas atas melayani pembelian dengan sistem layanan antar. 

Bahkan satu jaringan supermarket besar bekerjasama dengan sebuah perusahaan platform transportasi dalam melayani pembelian secara daring.  

Demikian juga kampus atau lembaga kursus merubah layanannya menjadi sistem daring. 

Agility dapat juga diartikan sebagai kemampuan untuk merubah ancaman menjadi peluang. 

Perusahaan dengan agility yang tinggi akan mampu melihat celah peluang di balik ancaman yang ada.

Sebuah perusahaan batik di Jawa Barat ketika melihat kebutuhan masker sangat tinggi dan di pasar ketersediaan pasokan sangat kurang, maka mereka dengan cepat merubah produksi baju batik menjadi masker berbahan batik. 

Selain berhasil bertahan dari ancaman kebangkrutan karena penjualan baju batik yang sepi, perusahaan tersebut mampu bertahan bahkan mendapat pujian karena menjual masker yang unik dengan harga wajar dan diapresiasi masyarakat yang sangat membutuhkan masker. 

Di Jawa Tengah, sebuah perusahaan produsen jok mobil dan beberapa perusahaan konveksi dengan cepat merubah produksinya menjadi produksi baju APD dan masker dengan memanfaatkan kelihaiannya dalam menjahit. 

Salah satu platform transportasi daring juga memberikan pelayanan top up gratis kepada nasabahnya sebagai respon sepinya transportasi daring. 

Contoh-contoh diatas menunjukkan bagaimana agiity sangat diperlukan oleh perusahaan, terutama dari sisi pimpinan perusahaan untuk terus bertahan bahkan menjadi pemenang ketika terjadi perubahan drastis. 

Alih-alih mengeluh dan mengomel, mereka menjadi pionir dalam melakukan perubahan.

Krisis dan masalah selalu akan terjadi, semaunya kembali ke pribadi kita masing-masing apakah akan menyalahkan situasi atau bangkit dengan semangat agility untuk terus bertahan bahkan merubah krisis menjadi peluang.

Penulis adalah Prof. Dr. Jony Oktavian Haryanto, Rektor President University