INDUSTRY.co.id - Merebaknya Coronavirus disease (Covid 19) telah menghentakkan Indonesia.
Pada awal penyebarannya di China dan banyak negara lainnya, Indonesia masih aman dan belum ada satupun laporan resmi pasien dengan kasus Covid positif.
Bahkan, dalam beberapa guyon satire, disebutkan bahwa orang Indonesia imun dari Covid karena sudah terbiasa makan makanan gorengan yang mengandung plastik, ataupun Covid yang minder masuk ke Indonesia karena disini tingkat polusi yang parah.
Namun ternyata, semua guyonan itu mentah ketika satu per satu dilaporkan kasus Covid dengan jumlah yang terus bertambah secara signifikan dari hari ke hari dan saat ini jumlahnya sudah ratusan.
Berkenaan dengan penyebaran virus ini, maka Kemdikbud membuat edaran cepat dengan 18 poin pencegahan.
Menarik untuk dicermati bahwa tidak ada satupun dari 18 poin tersebut yang meminta penyelenggaraan kuliah secara jarak jauh (online).
Universitas Indonesia (UI) sebagai salah satu pioner pendidikan di Indonesia, bergerak lebih cepat dengan menerbitkan surat edaran yang meminta kegiatan tatap muka pembelajaran dirubah ke pembelajaran jarak jauh.
Kebijakan UI ini langsung ditiru oleh banyak Universitas, terutama di Pulau Jawa dan beberapa Universitas besar di luar Jawa.
Dengan belajar secara jarak jauh yang dapat dilakukan di rumah, tentunya akan meminimalisir kegiatan tatap muka yang ditengarai sebagai salah satu penyebaran virus ini.
Menjadi pertanyaan, siapkah kita mengubah belajar konvensional tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh?
Peraturan dengan jelas menyatakan bahwa sistem kuliah campuran tatap muka dan jarak jauh (blended learning) diperbolehkan dengan maksimal kegiatan pembelajaran jarak jauh tidak lebih dari lima puluh persen.
Beberapa kampus yang besar sudah sangat siap dan terbiasa dalam melakukan pembelajaran jarak jauh, sehingga ketika terjadi kasus penyebaran virus seperti ini, mereka dengan cepat mengalihkan pembelajaran tatap muka ke pembelajaran jarak jauh.
Namun ternyata, hampir sebagian besar kampus kita belum siap dan terbiasa dengan penggunaan kuliah jarak jauh.
Alasan klasik selalu muncul disana, yaitu internet yang lambat, infrastruktur pendukung yang kurang memadai, sumber daya manusia yang masih gagap teknologi, dlsb.
Dari pemantauan saya, dari sekitar 4700 lebih Perguruan Tinggi di Indonesia, hanya sekitar 100 yang akan dan sedang merubah kuliahnya ke metode jarak jauh.
Mungkin alasan itulah yang melatar belakangi Menteri Pendidikan tidak serta merta menganjurkan kampus untuk merubah kuliah konvensional tatap muka ke pembelajaran jarak jauh.
Beliau sebagai salah satu pakar dan pioneer penggunaan internet tentu paham bahwa terjadi disparitas kesiapan penggunaan teknologi antara Jawa dan luar Jawa, antara Jakarta dan luar Jakarta, antara Kampus yang di kota dan Kampus yang di desa, dlsb.
Sudah tidak jaman lagi, pertemuan kuliah harus dilakukan dalam ruangan kelas yang di sebagian besar kampus kita masih berupa ruangan tertutup mirip dengan penjara.
Perkuliahan seperti ini adalah model kuliah jaman bauhela beratus tahun lalu yang masih terus diadopsi sampai sekarang.
Dengan keberadaan youtube, wikipedia, google, dlsb telah membuat perubahan yang sangat cepat dimana fungsi seorang dosen hanyalah sebagai fasilitator dan bukan sebagai satu-satunya sumber informasi seperti yang terjadi ratusan tahun yang lalu.
Dosen yang kuno malah mengharuskan mahasiswanya menghafal mati pelajaran yang ada dan tidak diperbolehkan membuka gawai sama sekali dalam perkuliahan.
Apalagi soal tes tutup buku dan model pilihan ganda selalu saya pertanyakan kualitasnya.
Apakah ketika seseorang bekerja nanti ada soal pekerjaan yang penyelesaiannya hafalan dan tidak boleh buka referensi? Tentu jawabannya tidak ada.
Oleh karenanya, kejadian luar biasa penyebaran COVID 19 ini merupakan momentum untuk mengevaluasi kesiapan kita dalam menghadapi bencana non alam.
Ke depan, tidak ada jaminan bahwa kasus penyebaran penyakit seperti ini tidak terjadi lagi. Untuk itu, kesiapan kampus dan sekolah dalam menghadapinya menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua.
Negara lain seperti China, Italia, Singapura dan Amerika Serikat terbukti jauh lebih siap dengan pembelajaran jarak jauh sehingga penyebaran COVID 19 ini juga dapat ditekan serendah mungkin.
Penulis adalah Prof. Dr. Jony Oktavian Haryanto, Rektor President University