INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF), atau WOM Finance, membukukan laba bersih sebesar Rp260 miliar pada 2019. Sebesar 30 persen dari laba bersih tersebut, atau sekitar Rp78 miliar, dibagikan sebagai dividen tunai untuk tahun buku 2019. Dengan demikian, besarnya dividen per saham tercatat sebesar Rp22,40.
Pemegang saham perseroan menyetujui pembagian dividen terfsebut dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dilaksanakan di Gedung Sentral Senayan 3, Jakarta Pusat, Kamis (12/03/2020).
Presiden Direktur WOM Finance, Djaja Suryanto Sutandar, mengemukakan, manajemen perseroan menyisihkan dana Rp1 miliar yang berasal dari laba bersih tersebut untuk cadangan umum. Itu bertujuan untuk memenuhi ketentuan Pasal 70 ayat 1 Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan terbatas dan pasal 24 Anggaran Dasar Perseroan.
“Sementara itu, sisa laba 2019 perseroan dicatat sebagai laba ditahan (retained profit). Ke depan, laba tersebut akan digunakan untuk membiayai kegiatan usaha perseroan,” papar Djaja.
Djaja juga menuturkan, kinerja keuangan WOM Finance pada 2019 menunjukkan pertumbuhan yang positif dan semakin baik kendati kondisi perekonomian global belum stabil. Itu karena manajemen perseroan berhasil melakukan pemilihan target pasar yang cermat, sehingga laba bersih 2019 WOMF tumbuh 21 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar Rp215 miliar.
“Kami berterima kasih atas dukungan penuh seluruh stakeholder kepada perusahaan, sehingga kami dapat terus meningkatkan kinerja dari tahun ke tahun serta mampu memberikan dividen tunai berturut-turut selama tiga tahun terakhir,” imbuh Djaja.
Sementara Direktur Keuangan WOM Finance, Zacharia Susantadiredja, mengungkapkan pertumbuhan laba bersih perseroan pada 2019 ditopang oleh perbaikan kualitas portofolio, pertumbuhan pendapatan dan melaksanakan disiplin yang ketat dalam mengelola biaya-biaya operasional usaha.
“Pendapatan 2019 WOM Finance tercatat sebesar Rp2,64 triliun, meningkat 1,05 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya Rp2,62 triliun. Sementara itu, total biaya usaha perseroan turun 2,42 persen menjadi tinggal Rp2,27 triliun pada 2019 dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar Rp2,33 triliun. Kondisi itu yang mendorong kami dapat membukukan pertumbuhan laba pada tahun lalu,” pungkas Zacharia. (Abraham Sihombing)