INDUSTRY.co.id - Jakarta - Anjloknya harga minyak dunia awal pekan lalu jadi ancaman baru di tengah tekanan perekonomian global akibat merebaknya wabah COVID-19. 

Advertisement

Kondisi ini diperkirakan bakal berlangsung lama dan memberikan sentimen negatif pada pasar keuangan Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, turunnya harga minyak dunia justru akan meningkatkan daya saing industri nasional.

Advertisement

"Kalau dalam kontek industri, turunnya harga minyak itu semakin baik karena harga energi itu akan lebih murah. Tapi catat, ini dalam konteks industri," kata Agus di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Rabu (11/3/2020).

Untuk industri, jelas Agus, minyak digunakan sebagai bagian dari proses produksi. "Jadi sebetulnya kalau minyak itu digunakan sebagai bagian dari proses produksi akan lebih bagus jika harganya turun, sehingga cost produksi akan turun juga dan akan membuat industri lebih berdaya saing," terangnya.

Advertisement

Hal senada juga diungkapkan oleh Pimpinan Dexa Group, Ferry Soetikno. Menurutnya, jika harga minyak dunia turun maka akan berdampak pada penurunan harpa pokok penjualan (HPP). 

"Kalau memang harha di charge kita turun, HPP kita juga akan turun dan ini akan lebih bagus," kata Ferry.

Advertisement

Namun, lanjut Ferry, masih butuh waktu untuk industri di Indonesia bisa menikmati turunnya harga minyak tersebut. 

"Perlu waktu turun ke kita, dari hulunya juga kan memakan waktu yang tidak sebentar," ungpaknya.

Sekedar informasi, hingga Selasa (10/3/2020), harga minyak US West Texas Intermediate (WTI) masih berada di angka 34,36 dolar AS per barel, sementara harga minyak berjangka brent di angka 37,20 dolar AS per barel.