INDUSTRY.co.id - Jakarta - Secara Analisa Teknikal IHSG bergerak menguat mampu kembali diatas rasio fibonacci 127.2% dilevel 5172 meskipun memiliki support rasio fibonacci 161.8% di kisaran level 5025.
Pergerakan selanjutnya secara teknikal bergerak terkonsolidasi mencoba bertahan diatas level rasio fibonacci dengan target penutupan gap untuk jangka menengah dikisaran 5498. Indikator stochastic masih bergerak curam menuji oversold namun momentum RSI bergerak bullish reversal keluar dari zona jenuh jual.
"Sehingga kami perkirakan IHSG akan bergerak bertahan pada level positif dengan support resistance 5172-5288," kata analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Rabu (11/3/2020).
Saham-saham yang masih dapat dicermati secara teknikal diantaranya; ACES, ASII, BBCA, BBNI, BBTN, LPPF, MEDC, WIKA.
IHSG (+1.64%) naik sebesar 84.02 poin kelevel 5220.83 dengan sektor keuangan (+2.38%) dan konsumsi (+2.18%) memimpin penguatan indeks sektoral. IHSG rebound sempat lebih dari 2 persen setelah pemerintah memberikan kebijakan buyback tanpa RUPS kepada emiten sedangkan regulator memberikan kebijakan auto rejections bawah lebih ketat di level 10 persen. Rentetan kebijakan tersebut memberikan angin segar pada pergerakan IHSG hingga akhir sesi perdagangan yang mampu rebound sedikit menutupi kerugian sebelumnya. Investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar 857.02 miliar rupiah dengan saham BBCA, ASII, BMRI dan BBNI menjadi yang terbanyak dijual investor asing. Rupiah menguat 0.28% kelevel Rp14351.50 per USD.
Bursa Eropa membuka perdagangan dengan luar biasa rebound lebih dari 3% diawal sesi perdagangan merespon hasil positif pada bursa saham Asia. Indeks Eurostoxx (+3.78%), FTSE (+3.78%) dan DAX (+3.46%) naik signifikan menanti keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa ditengah ekspektasi akan mengurangi pengetatan kebijakan. Data Gross Domestic Product YoY di zona Eropa naik diatas ekspektasi sebesar 1% dari 0.9% dan Data pertumbuhan pekerja naik positif menjadi pendorong penguatan ditengah reboundnya mayoritas saham global pasca terkoreksi tajam. Investor selanjutnya masih akan menanti pergerakan ekuitas-ekuitas saham di AS dan Indeks Future serta harga minyak guna melihat kondusifitas dari pergerakan aset beresiko.