INDUSTRY.co.id - Jakarta - IHSG secara analisa teknikal bergerak break out support fractal yang berada dilevel 5288 sehingga membentuk inverted wave 5 pada cycle yang lebih kecil dengan target fibonacci ratio 161.8% dikisaran 5026 pada tarikan wave 4 dari 5288 hingga 5715.

Secara teknikal potensi pelemahan masih menghantui dan belum adanya tanda-tanda pembalikan arah. Kalaupun rebound hanya percobaa berbalik kuat diatas 5100.

"Sehingga diperkirakan pergerakan IHSG masih cenderung bearish dengan potensi aksi buy on weakness investor dibeberapa saham blue chip yang telah turun signifikan untuk trading jangka pendek dengan support resistance 5026-5172," ujar analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Saham-saham telah turun signifikan dan dapat dicermati secara teknikal diantaranya ACES, ASII, BBNI, BBTN, LPPF, SCMA, WIKA.

IHSG (-6.58%) turun signifikan sebesar 361.73 poin kelevel 5136.81 mengiringi pelemahan ekuitas Asia pasca turunnya harga minyak setelah pecahnya aliansi OPEC+ akibat penolakan pangkas produksi disalah satu negara anggota. Investor domestic panic selling terlihat catatan aksi beli justru pada investor asing sebesar 217.84 miliar net buy diseluruh papan perdagangan. Sektor Aneka Industri (-9.42%) dan pertanian (-8.26%) memimpin pelemahan. Saham ASII (-11.45%) dan IMAS (-11.76%) memimpin pelemahan. Indeks Keyakinan Konsumen turun lebih dari ekspektasi kelevel 117.7 dan perkiraan 119 menjadi trigger penekan disaat sentimen global dan komoditas sangat membebani pergerakan ekuitas regional dan global. Rupiah turun lebih dari sepersen sebesar 1.05% kelevel 14392.50 memberikan signal panic pada investor domestic maupun asing pada aset beresiko maupun aset haven didalam negeri.

Bursa Eropa mayoritas seperti bursa saham Asia turun lebih 5% pada pembukaan perdagangan awal pekan. Indeks Eurostoxx (-7.00%), FTSE (-6.77%) dan DAX (-6.50%) turun signifikan mengalami panic selling dan aksi risk off yang cukup mengkhawatirkan. Dampak dari epidemic coronavirus di luar tiongkok direspon cukup mengkhawatirkan dari bank dunia dan IMF sehingga beberapa negara produsen minyak memperkirakan akan mengalami penurunan yang signifikan pada permintaan. OPEC+ menyarankan anggota aliansi untuk melanjutkan pemangkasan produksi namun dikecam beberapa pihak yang merasa dirugikan. Aliansi OPEC+ pun pecah setelah Rusia dan Arab Saudi berlomba-lomba menambah produksi dan membiarkan harga minyak turun kelevel terendahnya. Arab Saudi pun memangkas harga impor minyak $5-$7 perbarrel semakin memperkeruh suasana hingga harga minyak mentah turun lebih dari 30% dalam sehari. Produsen Saudi milik negara telah secara pribadi mengatakan kepada beberapa pelaku pasar bahwa mereka berencana untuk meningkatkan produksi jauh di atas 10 juta barel per hari bulan depan dan bahkan dapat mencapai rekor 12 juta barel per hari. Sentimen selanjutnya masih seputar langkah intervensi OPEC dan AS dalam langkah menahan aksi risk off dan panic selling yang terjadi pada pasar keuangan dunia.