INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kementerian Perindustrian melakukan kunjungan ke Singapura menemui Minister for Education (Higher Education and Skills) Singapura Ong Ye Kung guna menjajaki kerja sama dengan institusi pendidikan di kampus Institute of Technical Education (ITE), Singapura, Jumat (24/3/2017).
Chief Executive Officer ITE, Bruce Poh menyambut positif rencana kolaborasi yang dipaparkan Menperin. Institusinya selama ini memberikan jasa konsultasi, khususnya mengenai program pendidikan vokasi.
Kerja sama antara industri dan pendidikan merupakan peluang besar dan hal tersebut menjadi tujuan dari pelatihan yang kami berikan, ujarnya.
Lembaga tersebut juga memiliki ITE Education Services yang bertindak sebagai konsultan mengenai Technical Vocational Education and Training (TVET).
Dalam pertemuan tersebut, ITE juga diharapkan membuat fasilitas pendidikan vokasi di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. Kawasan ini merupakan proyek patungan perusahaan Singapura, Sembcorp Development Ltd dengan perusahaan lokal, PT. Jababeka Tbk. Fasilitas yang diberikan terutama penyediaan pengajar untuk mewujudkan prototipe ITE di Indonesia.
Apabila diwujudkan, fasilitas pendidikan vokasi tersebut turut menandai 50 Tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Singapura yang diperingati September nanti, ujar Direktur Jenderal Ketahanan dan Akses Industri Internasional Kemenperin Harjanto yang mendampingi Menperin dalam kesempatan tersebut.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri (Pusdiklat Kemenperin) Mujiyono saat mendampingi Menperin menyampaikan bahwa Kemenperin memiliki sembilan SMK, sembilan politeknik serta satu akademi komunitas.
Sekolah-sekolah kejuruan milik Kemenperin tiap tahunnya meluluskan sekitar 5.000 siswa yang semuanya terserap dunia kerja. Ke depan, akan ditambah tujuh politeknik atau akademi komunitas di kawasan industri dengan program dual system dan sistem blok waktu, ujar Mujiono.
Mujiyono menambahkan, peluang-peluang kerjasama lain seperti kerjasama ITE dengan unit pendidikan Kemenperin yang memiliki kesesuaian program studi, pertukaran materi pembelajaran serta pengembangan sistem sertifikasi.
Selain itu, kerjasama dalam pembangunan politeknik dan akademi komunitas di kawasan industri dan wilayah pusat pertumbuhan industri juga diperlukan untuk mendukung pertumbuhan investasi.
Kementerian Perindustrian mempelopori pembangunan link and match antara SMK dengan dunia usaha industri secara massif untuk menghasilkan lulusan SMK yang kompeten dan siap kerja. Kemenperin menargetkan dapat terbangun link and match antara 355 perusahaan industri dengan 1.755 SMK dalam kurun waktu 2017-2019.