INDUSTRY.co.id - Jakarta - IHSG bergerak menutup gap yang terbentuk pada akhir tahun 2019 dan tiba pada level support dari pelemahan diakhir tahun 2019 dikisaran level 5940. Indikator Stochastic bergerak jenuh dengan pelemahan yang signifikan mengirim momentum RSI bergerak dibawah oscillator 10%.
Secara teknikal potensi pelemahan IHSG masih memiliki sekenario negatif lanjutan apabila break out dibawah 5900 kelevel fibonacci retracement 127.2% dilevel 5830.
"Sehingga kami perkirakan IHSG bergerak mencoba menguat teknikal rebound bertahan di atas 5900 dengan support resistance 5900-6070," kata analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Senin (3/2/2020).
Saham-saham yang dapat dicermati secara teknikal diantaranya; TBLA, TKIM, WTON, JPFA, BRPT, INTP, JSMR, ASII.
IHSG (-1.94%) turun signifikan 117.55 poin kelevel 5940.05 dengan sektor aneka industri (-3.32%) dan keuangan (-2.35%) memimpin tekanan pelemahan. Saham produsen mobil dan bank melemah lebih dari 2 persen diakhir sesi dengan psimistis dari data pertumbuhan penjualan mobil dan pertumbuhan kredit perbankan ditengah suku bunga yang telah diturunkan 100bps pada tahun 2019.
BBCA (-3.86%) sebagai saham berkapitalisasi pasar terbesar di IHSG turun signifikan setelah mengalami penguatan sejak tahun 2019 dan mencapai puncaknya pada tengah bulan Januari 2020. Investor asing melakukan aksi jual bersih saham BBCA sebesar 558.44 miliar rupiah hingga diakhir sesi perdagangan sehingga total Investor asing melakukan aksi jual sebesar 1.85 Triliun rupiah.
Bursa Eropa membuka perdagangan dengan bervariasi cenderung melemah. Indeks Eurostoxx (-0.11%), FTSE (-0.55%) dan DAX (+0.01%) bervariasi memasuki kerugian mingguan terbesar dalam tiga bulan. Katalis virus korona dan aksi tunggu laporan keuangan perusahaan kuartal ke-4 menjadi katalis negatifnya. Nilai tukar Euro stabil setelah tiga kejutan data - ekonomi Prancis dan Italia menurun pada kuartal keempat, sementara pertumbuhan Spanyol meningkat. Minyak mentah West Texas Intermediate naik 1% menjadi $ 52,68 per barel setelah OPEC kembali menegaskan penguarangan produksi dan sentimen krisis Lybia yang mengurangi 50% output menahan peningkatan produksi minyak di AS. Pekan depan sentimen data ekonomi dari indeks kinerja manufaktur PMI, tingkat inflasi dan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi fokus investor didalam negeri. Sedangkan untuk regional dan global akan terfokus pada data indeks kinerja manufaktur di Tiongkok dan AS.