INDUSTRY.co.id - Jakarta - Membaiknya tingkat hunian belakangan ini menandai peningkatan positif sektor properti Tanah Air yang terpantau lesu sejak beberapa tahun belakangan.
Di sisi lain, tekanan terhadap harga jual dan sewa properti yang terus berlanjut memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk bernegosiasi. Hal ini diharapkan membuat volume transaksi di pasar properti ke depan bakal terus meningkat.
"Fundamental pasar properti di Jakarta tetap kuat, ditopang oleh prospek pertumbuhan ke depan yang lebih baik. Aktivitas pasar yang melambat dalam beberapa tahun terakhir terlihat mulai menunjukkan peningkatan, khususnya di sisi penyerapan maupun tingkat hunian," kata Director Head of Research & Consultancy Savills Indonesia, Anton Sitorus di Jakarta (22/1/2020).
Di sektor perkantoran, konsultan properti internasional yang berbasis di London, Inggris, tersebut mencatat penyerapan di daerah segitiga emas (CBD) Jakarta meningkat tipis di sepanjang 2019. Net take-up di daerah CBD tercatat sekitar 152.000 m2 di tahun lalu, dimana penyerapan positif tersebut membuat tingkat hunian tetap stabil di kisaran 76%.
Sementara itu, di daerah Non-CBD, penyerapan sepanjang 2019 mencapai sekitar 76.500 m2 dan dengan pasokan baru yang cukup signifikan tahun lalu, tingkat hunian perkantoran di daerah Non-CBD menurun sedikit ke kisaran 75%.
Lebih lanjut Anton menambahkan, permintaan ruang kantor di Jakarta belakangan ini didominasi oleh ekspansi perusahaan co-working space, perusahaan e-commerce, dan tech companies.
"Kebanyakan tenant-tenant baru di sektor ini memilih untuk membuka kantornya di gedung perkantoran baru yang memiliki lokasi strategis, namun dengan harga yang kompetitif," lanjut Anton Sitorus.
Sementara itu, Senior Director Departement Retail Service Savills Indonesia, Rosaline Lie menyampaikan, penyerapan ruang ritel sepanjang 2019 melonjak cukup tinggi. Total penyerapan di tahun 2019 mencapai sekitar 75.000 m2 dan tingkat hunian mal secara keseluruhan naik hampir mencapai 90%.
Ditambahkan Rosaline, sektor pusat perbelanjaan secara umum berpotensi menjadi lokomotif pendorong recovery dan pertumbuhan sektor properti, karena sektor ritel nasional sangat dinamis dan selalu menarik bagi investor dari dalam dan luar negeri karena faktor konsumsi domestik yang dominan, pertumbuhan urban middle class dan tren gaya hidup modern.
"Dibandingkan kota-kota besar lain di wilayah Asia, perkembangan mal di Jakarta terbilang lambat, sehingga ruang pertumbuhannya masih terbuka cukup lebar mengingat faktor-faktor tersebut di atas," katanya.