Mengenang Ria Irawan

Oleh : Dimas Supriyanto | Senin, 06 Januari 2020 - 12:00 WIB

Dimas Supriyanto
Dimas Supriyanto

INDUSTRY.co.-Ria Irawan adalah mengenangkan artis yang ceria. Saya mengenalnya sejak 1984,  saat dia jadi artis remaja, anggota  delegasi Indonesia yang ikut meramaikan Festival Film Asia Pasifik (FFAP) di Jakarta. Di Hotel Horizon - Ancol Jakarta.  Kami banyak bicara. Juga foto bareng -  film hitam putih.

Dia bangga menggandeng mesra artis ganteng Thailand, seumurnya,  dan saat itu menjadi berita ramai karena biasanya artis Indonesia biasanya hanya berkumpul dan bergaul dengan sesama artis Indonesia - lantaran kendala bahasa dan kurang kemampuan sosialisasi. Ria Irawan lah artis remaja kita,   di usia 15 tahun (kelahiran 24 Juli 1969) yang mendobraknya. Bergaul mesra dengan artis artis negeri jiran.

Pamor Ria Irawan sebagai artis remaja melangit ketika dia main film 'Kembang Kertas' (1984) yang disutradarai Slamet Rahardjo dan film 'Ibunda'  garapan sutradara klas empu Teguh Karya,  sebagai film Terbaik di FFI 1986 yang meraup banyak Piala Citra dan mengantarkannya sebagai nominasi Aktris Pendukung Terbaik. Ria sendiri tampil natural dan menawan di dua film itu. Sebagaimana Jenny Rachman dan Dewi Yull,   wajah Indonesianya sangat khas.

Saya pernah menjemput dara  pemilik nama Chandra Ariati Dewi Irawan ini,  di  rumahnya di Lebak Bulus Jakarta Selatan - dan ditempati hingga kini - memotretnya di outdoor bareng  Erik Sumarouw, fotografer "The Jakarta Post" -  terbawa oleh gaya foto tabloid "Monitor" yang membuat cover dengan  setting luar ruang. Saya memakai lensa 135 mm untuk membuat foto dengan  latar belakang alang alang dan agak blur. Saya ingat, dia mengenakan gaun merah sopan.

Yang "tidak sopan" adalah bibirnya. Ria adalah artis kita yang  bermulut cablak. Sebagian besar yang keluar dari bibir manisnya harus disensor.

Kami banyak bercanda dan ketawa ketawa. Pembawaannya memang selalu ceria. "Kehidupan orang film itu keras, Mas.  Makanya kami suka sama yang alus alus, " begitu jawabnya ketika saya menkonfirmasi gossip santer apa betul dia "lines" -  suka bercinta dengan sesama perempuan?

Faktanya dia suka lelaki. Setidaknya sukses membawa Mick Jagger ke rumahnya, sebelum manggung di Stadion Utama Senayan, Oktober 1988. Dan media dibuat heboh. Gosip memang tak jauh dari Ria, sebagai artis cantik yang suka bikin kontroversi pada masa mudanya. Termasuk saat rekaman lagu bareng Rano Karno. Dan kematian Rivaldi Sukarno (1990) akibat ekstasi, lalu terbang ke Milan, dan balik ke Indonesia mendalami pembuatan video klip musik yang sedang trend,  pacaran dengan Rizal Manthovani, tapi menikah dengan Yuma.

MESKI tak semesra dulu, karena bertahun tahun tak bertemu muka, kami masih sering saling ngobrol dan SMS-an, bila ada kesempatan.

Terakhir saya ingat,  ketika setelah ngobrol ngalor ngidul dan lanjut SMS-an.  Saya gatal menggodanya.

Oh, ya - sebelumnya saya bernostalgia, memuji ayahnya sebagai figur  legenda yang kondang hingga kampung halaman saya.

"Semua orangtua Indonesia  di awal tahun 1970-an ingin anak laki lakinya ganteng kayak Bambang Irawan! "  puji saya, menyinggung almarhum bapaknya. Ria adalah putri bungsunya.

Sebelum melesat nama Sophan Sophiaan dan Roy Marten, Bambang Irawan lah lambang pria ganteng Indonesia pada masanya. Figur bintang pria idola.

Saya memuji ibunya, aktris Adek Irawan,  yang tak menikah lagi setelah ditinggal Mas Bambang. Saya pernah wawancara khusus dengan aktris pemeran isteri Jendral Nasution di film "Pengkhianatan G-30 S PKI" untuk halaman "Pos Kota" dan dapat sambutan heboh.

Lalu saya berkomentar tentang Ria. Sengaja saya bikin nyeleneh. Tidak biasa. "Saya mengenangkan kamu, Ria Irawan, sebagai artis remaja yang toketnya gede!" tulis saya di SMS.

"Aduuh,  Mas,  berat Mas. Beraaat bawanya, " dia balas SMS saya.  Tidak marah.

Belum ada isu "body shaming" waktu itu.

Melanjutkan jawabannya di SMS,  dia angkat  telepon dan bicara. "Tahu nggak Mas?  Udah 10  tahun lebih aku nggak bisa lihat 'memxx' aku sendiri. Tiap mandi aku gosok  gosok aja,  nggak bisa lihat, " katanya.

"Kenapa ?" Saya bertanya, sambil mengikik.

"Ya,  itu. Ketutupan toket, " jawabnya.

Mendadak saya ketawa ngakak, sendiri,  di taksi sampai sopirnya kaget.

Itulah obrolan kami terakhir  beberapa tahun lalu, sebelum dia dirawat karena kanker getah bening dan pergi selamanya.

Ria Irawan, sekarang kamu sudah tidak sakit lagi. Kamu nggak perlu suntikan morphin untuk meredakan rasa sakitmu.

Aku kenangkan tawa dan canda ceriamu. 

Semoga kamu ceria juga di alam keabadian sana.

Selamat jalan. Damai bersamamu  

Oleh Dimas Supriyanto: Wartawan Senior

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Kasum TNI Letjen TNI Joni Supriyanto

Kamis, 20 Februari 2020 - 04:17 WIB

Kasum TNI Ikuti Ceramah Rohani Islam

Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI Joni Supriyanto dan para Pejabat TNI, Prajurit dan PNS di lingkungan Mabes TNI serta Ibu-Ibu Ikatan Kesejahteraan Keluarga TNI Pragati Wira Anggini (IKKT…

Kepala Bakamla RI/Indonesian Coast Guard (IDNCG) Laksdya TNI Aan Kurnia, S.Sos., M.M.,

Kamis, 20 Februari 2020 - 04:10 WIB

Kepala Bakamla RI Courtesy Call Ke Mabes TNI AU

Kepala Bakamla RI/Indonesian Coast Guard (IDNCG) Laksdya TNI Aan Kurnia, S.Sos., M.M., melakukan Courtessy Call ke Mabes TNI AU yang diterima langsung oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KASAU)…

OVO

Kamis, 20 Februari 2020 - 02:59 WIB

Sah, Mirza Adityaswara Presiden Komisaris OVO

PT Visionet Internasional (OVO), perusahaan pembayaran dan layanan keuangan digital terdepan di Indonesia, dalam media gathering yang digelar di Jakarta pada hari ini Rabu (19/2/2020) mengumumkan…

GSP

Kamis, 20 Februari 2020 - 01:01 WIB

Datangi Amerika, Indonesia Pertahankan Fasilitas Sistem Tarif Preferensial Umum (GSP) Produk Ekspor

Menteri Perdagangan RI Agus Suparmanto menyatakan bahwa Indonesia terus berkomitmen untuk mempertahankan fasilitas sistem tarif preferensial umum (Generalized System of Preference/GSP) bagi…

Menteri Teten usai menerima CEO PT Global Dairi Alami (PT GDA) Ihsan Mulia Putri, di Jakarta, Rabu (19/2).

Kamis, 20 Februari 2020 - 00:31 WIB

Menkop Akan Patahkan Dominasi Susu Impor

Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan, pihaknya akan mematahkan dominasi produk impor susu dalam memenuhi kebutuhan susu nasional.