INDUSTRY.co.id - Jakarta - Ustadz Abdul Somad (UAS) dilarang Universitas Gajah Mada untuk mengisi ceramah di kampus ternama tersebut. Pelarangan ini mendapat reaksi keras dari Dahnil dari Institute Kajian Strategis UKRI.

Dahnil Anzar Simanjuntak,Peneliti Senior Institute Kajian Strategis UKRI menyesalkan sikap UGM tersebut. Kampus telah kehilangan identitasnya sebagai "University" dimana, Kampus adalah rumahnya diversity (perbedaan, Keberagaman) pandangan lahir. Tempat dimana pikiran diadu.

"Pimpinan UGM telah berubah bak rezim politik yang anti perbedaan. Saya sesalkan bila Civitas Akademika, para fakulti berdiam diri terhadap laku pimpinan UGM yang anti Diversity, berlaku bak rezim politik terkait pelarangan terhadap Ustadz Abdul Somad. Saya berasumsi seluruh Civitas Akademika dan Fakulti di UGM kehilangan otoritas moral sebagai intelektual," kata dia di Jakarta, dikutip Kamis (10/10/2019).

Menurut dia, University adalah rumah dimana persemaian perbagai pemikiran lahir, dan beradu satu dengan lainnya. Bila tak bersepakat dengan satu pemikiran maka adu dengan pemikiran lain. Bukan, justru bertindak represif melarang Intelektual (Ustadz) seperti Abdul Somad menyampaikan gagasannya di UGM.

Terus terang kata dia, sebagai salah satu orang yang hidup di kampus, tumbuh berkembang sebagai Dosen dan Peneliti, dia malu melihat laku anti pemikiran yang ditunjukkan oleh Pimpinan UGM terkait pelarangan terhadap Ustadz Abdul Somad, dan tentu juga sesalkan bila insan cendikia disana diam terhadap perilaku tersebut.