INDUSTRY.co.id - Jakarta - Di era industri keuangan digital seperti sekarang ini banyak sekali perusahaan yang menawarkan layanan sistem pendanaan cepat seperti fintech peer to peer (P2P). Hal ini mendorong masyarakat Indonesia lebih tertarik memanfaatkan model pendanaan cepat dibandingkan menggadaikan barang.

Adanya trend perilaku seperti itu mendorong PT Pegadaian (Persero) terus meningkatkan potensi perusahaan dengan mengembangkan inovasi dan sinergitas antar perusahaan. Selain itu juga terus menyelaraskan dengan perkembangan keuangan digital.  Langkah ini perlu dilakukan agar masyarakat tetap menggunakan jasa dan manfaat layanan yang ada di Pegadaian.

"Kami menargetkan  Pegadaian sebagai perusahaan finansial terbaik di Indonesia dan sebagai agen inklusi keuangan pilihan utama masyarakat Indonesia. Untuk menjalankannya kami terus tingkatkan inovasi baru dan menjalin sinergi dengan perusahaan BUMN, Swasta, dan Lembaga Pemerintahan," kata Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto, pada acara Pertemuan ke - 61 BUMN Marketeers Club, Jakarta pekan lalu.

Kuswiyoto mengatakan ada dua inovasi yang sedang dijalankan oleh Pegadaian, yaitu produk dan channel layanan. Inovasi produk merupakan sistem layanan Pegadaian kepada nasabah, yaitu Gadai Tabungan Emas, Gadai on Demand, Gadai Efek (Saham & Obligasi), G-Cash, Gold Card, Digital Lending, Arrum Umroh, dan Rahn Tasjily Tanah.

Sedangkan inovasi channel layanan memiliki manfaat dalam meningkatkan inklusi keuangan, membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan produktivitas karyawan, efisiensi biaya sehingga tarif lebih kompetitif, meningkatkan sinergi (bersifat mutualisme), dan meningkatkan transaksi.

"Kedua inovasi ini terus dilakukan oleh perusahaan untuk menjawab tantangan-tantangan yang diberikan oleh pesaing di luar sana, sehingga menjadikan Pegadaian sebagai perusahaan yang menarik untuk nasabah maupun partner bisnis perusahaan," ujarnya.

Kuswiyoto menyebut bila manfaat kedua inovasi tersebut sudah terlihat dari outlet Pegadaian yang saat ini telah mencapai lebih dari 4.100 outlet, jumlah agen pegadaian yang lebih dari 9.600 jiwa, menjalin kolaborasi dengan 19 perusahaan BUMN/Swasta, lebih dari 1.800 sales force, lebih dari 13.400 karyawan (program EGC), dan lebih dari 1 juta pengguna Pegadaian Digital.

Tidak hanya itu, Kuswiyoto pun memaparkan dampak positif dari kedua inovasinya khususnya pada kinerja produk Pegadaian juga dapat terlihat dari, realisasi per Juli 2019 yang sudah mendekati target yang sudah ditentukan, untuk KCA realisasi telah mencapai Rp28.651 miliar dari target Rp29.242 miliar, Krasida realisasi Rp1.138 miliar dari Rp1.069 miliar, Rahn realisasi Rp4.588 miliar dari target Rp4.503 miliar, Arrum realisasi Rp1.418 miliar dari target Rp1.067 miliar, Kreasi realisasi Rp4.910 miliar dari target Rp4.309 miliar, Amanah realisasi Rp2.217 miliar dari target Rp1.943 miliar, Kresna realisasi Rp744 miliar dari target Rp765 miliar, dan Mulia realisasi Rp347 miliar dari target Rp509 miliar. Tak heran bila pada tahun 2018, Pegadaian berada di urutan ke 7 dari 10 perusahaan BUMN yang memberikan dividen terbesar

"Tahun 2018 kemarin, kita dapat menyumbangkan pajak sebesar Rp1.441 miliar dan dividen sebesar Rp1.387 miliar dengan total sebesar Rp2.828 miliar. Jumlah tersebut akhirnya membawa kita (Pegadaian) menjadi perusahaan BUMN terbesar nomor 7 penyumbang dividen dibandingkan dengan perusahaan sebesar PGN, Semen Indonesia, dan Waskita," pungkasnya.