INDUSTRY.co.id - Kuta, Bali – Peningkatan jumlah perusahaan tercatat (emiten) diharapkan dapat memacu pertumbuhan nilai transaksi perdagangan efek di Pasar Modal Indonesia. Untuk itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berupaya meningkatkan kapasitas dan kualitas perusahaan efek yang berkegiatan usaha sebagai penjamin emisi efek (underwriter) serta memberikan kepercayaan lebih kepada para profesi penunjang.
“Karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut, maka Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama-sama dengan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar acara Underwriting Network 2017,” ujar Tito Sulistio, Direktur Utama BEI, dalam acara pembukaan acara Underwriting Network 2017 di The Anvaya Beach Resort, Bali, Jumat (10/03/2017).
Tito mengemukakan, disamping para perwakilan perusahaan penjamin emisi (underwriter), acara itu juga diikuti oleh para investor institusi termasuk manajemen investasi, institusi asuransi, modal ventura, dan dana pensiun.
Tito juga mengungkapkan, pasar modal selama ini telah memiliki peran yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional baik dalam bentuk setoran pajak maupun peningkatan kekayaan masyarakat.
“Itu terlihat pada 2016 dimana pasar modal telah memberikan kontribusi untuk menambah kekayaan masyarakat hingga mencapai Rp215 trilliun, sedangkan kontribusi pajaknya mencapai Rp111 triliun, atau sekitar 12% dari total pencapaian pajak negara,” tukas Tito.
Kedepan, demikian Tito, kontribusi pasar modal berpotensi makin meningkat dengan syarat pemerintah dan pelaku usaha memberi kontribusi menambah jumlah emiten di pasar modal.
“Minimal, 30 perusahaan baru yang dibutuhkan untuk menjadi emiten bursa setiap tahun agar dapat mengejar jumlah emiten seperti di bursa Singapura dan Thailand dalam lima tahun ke depan,” ujar Tito.
Karena itu, Tito mengharapkan agar pemerintah dapat mempercepat pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham (PUPS) bagi berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berikut anak usahanya.
Dalam acara Underwriting Network 2017 ini, ada tiga seminar yang akan dilaksanakan, yaitu seminar bertemakan “Alternatif Pembiayaan Infrastruktur Melalui PINA dan KPBU” di sesi pertama dengan menghadirkan Bambang P.S. Brodjonegoro, Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Disamping itu, seminar pada sesi kedua menghadirkan Aloysius Kiik Ro, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha, Kementerian BUMN, yang membawakan tema “Arah Kebijakan Pemerintah Terhadap BUMN di tahun 2017-2018”. Sedangkan di sesi terakhir, ada seminar bertema “Pengaruh Dinamika Politik Indonesia Terhadap Keputusan Investasi” dengan menghadirkan Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia.
Kegiatan lain berbentuk Networking Night pada malam harinya dengan menghadirkan
empat host yakni Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro, Kepala Kantor WilayahDirektorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus, Muhammad Haniv, Kepala Bagian Lotas Divisi Hubungan Internasional Komisaris Besar Polisi,Akhmad Jamal Yuliarto, dan Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani. Acara Networking Night akan ditutup dengan pemberian penghargaan kepada tiga underwriter terbaik.
Tito berharap, melalui kegiatan tersebut pelaku pasar diharapkan akan dapat mendukung pertumbuhan jumlah Perusahaan Tercatat serta dapat menyemarakkan perdagangan saham di Pasar Modal Indonesia. Dengan demikian Pasar Modal Indonesia dapat semakin menjadi cerminan maupun tolak ukur bagi kemajuan perekonomian Indonesia.***