INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pelonggaran lebih lanjut oleh Bank Indonesia (BI) dalam beberapa bulan ke depan akan mendukung obligasi pemerintah Indonesia. Saat defisit neraca berjalan terus lebar (melampaui 3% dalam dua triwulan berturut-turut), dapat dipahami jika BI enggan melonggarkan kebijakannya jika dibandingkan dengan bank sentral lain.
Eugene Leow, Rates Strategist Bank DBS menyebutkan BI hanya memotong suku bunga sebesar 50 basis poin sepanjang tahun ini. Sebaliknya, bank sentral menaikkan suku bunganya sebesar 175 basis poin secara kumulatif pada 2018. Pelonggaran lebih lanjut terhadap kebijakan moneter ketat dapat dilakukan.
"Tetapi kami menduga bahwa ke depan, BI hanya akan merasa nyaman menyamai laju pemangkasan Bank Sentral AS. Risiko pendanaan eksternal masih menjadi isu di lingkungan bergejolak ini," kata dia di Jakarta, dikutip Selasa (27/8/2019).
Secara umum, katanya, aliran dana asing akan mendukung saat imbal hasil rendah (kepemilikan asing di obligasi pemerintah Indonesia meningkat lebih dari Rp1.000 triliun sepanjang tahun ini). Obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun menawarkan premi hampir 600 basis poin lebih besar dari surat utang pemerintah AS (US Treasuries) dengan tenor sama. Kami berpendapat bahwa selisih imbal hasil saat ini tinggi dengan hanya ada dua peristiwa (krisis keuangan global 2008/2009 dan kekhawatiran devaluasi Cina pada 2015) di mana selisih melebar jauh.
"Kami berpendapat bahwa fokus BI pada stabilitas rupiah dan upaya melunakkan gejolak harga obligasi harus memberikan kenyamanan bagi pemodal. Tenor jangka pendek (2 tahun, 3 tahun), yang secara jelas akan dikaitkan dengan kebijakan BI, yang lebih longgar, bisa dibilang merupakan taruhan lebih aman dalam lingkungan di mana selisih imbal hasil obligasi jangka pendek dengan obligasi jangka panjang kemungkinan melebar," katanya.