Kanker Paru di Indonesia Terus Meningkat, Ini Penyebabnya

Oleh : Andi Mardana | Kamis, 08 Agustus 2019 - 18:15 WIB

Ilustrasi rokok. (pixaby)
Ilustrasi rokok. (pixaby)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kanker paru-paru memiliki jumlah kasus baru terbanyak di dunia, yaitu sebesar 2,1 juta atau 11,6% dari total beban kejadian kanker di dunia.

Tidak jauh berbeda, di Indonesia sendiri kasus kanker paru-paru meningkat pesat, yaitu berada di urutan ke-8 di Asia Tenggara dan urutan ke-23 di Asia sebagai negara dengan angka kejadian kanker yang berada di zona serius, meningkat 10,85% dalam lima tahun terakhir.

Berdasarkan data dari GLOBOCAN 2018, 19,4% dari pasien kanker paru-paru di Indonesia adalah pria dan merokok adalah penyebab tertingginya, yaitu sebesar 80% dari keseluruhan kasus di 2018.

Merokok sebagai penyebab utama kanker paru-paru juga dibenarkan oleh dokter spesialis paru, dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P (K) dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Dr. Sita menjelaskn, peningkatan angka kasus paru-paru di Indonesia telah masuk pada tahapan memprihatinkan. Selain itu, lingkungan kerja juga bisa menjadi penyebab lain timbulnya kanker ini, seperti pabrik tambang, semen, dan keramik yang cenderung terpapar radiasi serta bahan kimia karsinogenik, sehingga memiliki potensi jauh lebih tinggi untuk terjangkit kanker paru-paru.

"Kami, para praktisi kesehatan, mengajak agar masyarakat Indonesia untuk terus menerapkan prinsip gaya hidup sehat, dengan didukung setidaknya berolahraga 30 menit sehari demi kesehatan paru-paru," jelas dr. Sita di Jakarta baru-baru ini.

Kanker paru-paru sendiri memiliki dua tipe, yaitu tipe Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) yang biasanya berasal dari sel-sel kelenjar di bagian luar paru-paru dan tipe Small Cell Lung Cancer (SCLC) yang berasal dari sel-sel yang melapisi bronkus di pusat paru-paru.

"Di antara kedua tipe tersebut, tipe SCLC hampir seluruhnya disebabkan oleh kebiasaan merokok dan dikenal lebih agresif karena pada stadium lanjut dapat lebih cepat menyebar ke bagian tubuh lainnya," ungkap dr. Sita.

Di Indonesia sendiri, sekitar 52% penderita kanker paru-paru didiagnosis tipe SCLC. Menurut dr. Sita, saat ini pengobatan kanker paru-paru dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:

- metode operasi, dengan mengangkat/mengoperasi jaringan sel kanker yang menyebar di organ vital.

- terapi radiasi, yang membunuh sel kanker menggunakan sinar berenergi tinggi seperti sinar-X.

- kemoterapi dan terapi target, yang menggunakan obat-obatan khusus untuk mengecilkan, membunuh, memblokir pertumbuhan dan penyebaran sel kanker.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ketua Hipmi Mardani H.Maming

Senin, 16 Desember 2019 - 06:00 WIB

HIPMI: Usaha Anak-Cucu BUMN Ditawarkan Saja ke Swasta

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Mardani H.Maming mendukung rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengkaji anak dan cucu usaha…

Kemensos Salurkan Bantuan Banjir Solok Selatan Rp 1,6 Miliar

Senin, 16 Desember 2019 - 05:30 WIB

Kemensos Salurkan Bantuan Banjir Solok Selatan Rp 1,6 Miliar

Kementerian Sosial menyalurkan bantuan tanggap darurat dalam bencana banjir bandang di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

 Ketua PWI Pusat Atal S Depari

Senin, 16 Desember 2019 - 05:00 WIB

Ribuan Orang Ikuti Fun Walk IKWI

Ribuan orang mengikuti kegiatan Fun Walk Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) 2019 yang mengambil tema "Keluarga Sehat, Ekonomi Kuat", Minggu, (15/12/2019).

Prajurit Marinir Surabaya Berhasil Rebut Juara 1 Belitung International Triathlon 2019

Senin, 16 Desember 2019 - 04:00 WIB

Prajurit Marinir Berhasil Rebut Juara 1 Belitung International Triathlon 2019

Setelah berjuang mati-matian dengan melewati berbagai rintangan yang berat, Juara 1 lomba Belitung International Triathlon 2019 kategori standard distance akhirnya berhasil direbut oleh Kopda…

Ketua MPR Bambang Soesatyo

Senin, 16 Desember 2019 - 03:30 WIB

Ketua MPR: Perkuat Jiwa Kebangsaan Generasi Muda

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendesak pemerintah untuk mulai berupaya memperkuat jiwa kebangsaan, atau yang lazim dikenal dengan ungkapan nation character building.