INDUSTRY.co.id - Sejak dinakhodai Tumiyana pertengahan 2016 lalu, kapal PT Pembangunan Perumahan, Tbk (PTPP) tampak bergerak cepat. Tujuannya tidak main-main, mewujudkan PTPP sebagai perusahaan konstruksi & investasi terbesar ASEAN pada kuartal I 2018 dengan total ekuitas sebesar Rp 37,57 triliun.

Dari sisi laba bersih, PTPP menargetkan bisa menjadi jawara ASEAN pada tahun 2019 dengan membukukan laba Rp 3,38 triliun. Sebagai informasi, saat ini perusahaan kontraktor terbesar masih dipegang oleh Gamuda Berhard Malaysia dengan total ekuitas tahun 2015 mencapai Rp 21,48 triliun dan akan meningkat menjadi Rp 23,51 triliun di tahun 2016.

Dengan asumsi rata-rata pertumbuhan 8,6% per tahun, posisi ekuitas Gamuda akan menjadi 28,09 triliun pada 2018. Laba Garmuda diperkirakan Rp 2,53 triliun tahun ini dan mencapai Rp 3,24 triliun di 2019.

Satu level di bawah Garmuda, terdapat perusahaan asal Thailand yakni CH. Karnchang Public Co. Ltd dengan ekuitas Rp 7,97 triliun di tahun 2015 dan diyakini akan mencapai angka 8,81 triliun tahun 2016. CH. Karnchang akan memiliki ekuitas sebesar Rp 11,08 triliun di tahun 2018. Adapun posisi laba CH. Karchang diyakini mencapai Rp 1,05 triliun di akhir 2016 dan Rp 1,89 triliun pada 2019.  

Melihat fakta tadi, tentu tak mudah mudah bagi PTPP, mengingat posisi ekuitas BUMN ini baru sebesar Rp 5,41 triliun di 2016. Adapun laba bersih ditaksir sebesar Rp 1,04 triliun di akhir 2016. Untuk mengejar ketertinggalan itu, berarti PP harus memacu pertumbuhan akuitas hingga 600% dalam tempo kurang dari dua tahun. Sementara laba bersih harus tumbuh masing-masing 63% di tahun 2017 dan 2018, serta minimal tumbuh 22,35% pada 2019.      

Dalam beberapa kesempatan Tumiyana mengatakan target yang ditetapkannya sudah dikalkulasi dengan matang dan realistis. Termasuk sederet aksi korporasi dan strategi bisnis yang sedang dan akan dilakukan untuk mewujudkannya.

Dari sisi akuitas, PTPP menurutnya melakukan right issue dengan target dana Rp 2,16 triliun, setelah pemerintah menggelontorkan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 2,25 triliun. Bila ditambah dengan laba bersih Rp 1,04 triliun serta exit strategies lainnya Rp 1 triliun, maka total ekuitas 2016 mencapai Rp 11,42 triliun. Posisi ini setelah pengurangan dividen pay out ratio dan lainnya Rp 0,15 triliun.

Di tahun 2017, posisi ekuitas ditargetkan PTPP mencapai Rp 22,96 triliun dengan pertumbuhan yang dikontribusi oleh laba ditahan, initial public offering (IPO) anak usaha yakni PP Pracetak, PP Peralatan & PP Energi serta langkah exit stategies maupun right issue PP Properti.

Adapun IPO anak usaha lainnya yakni PP Infrastruktur dijadwalkan pada kuartal I tahun 2018 dengan target perolehan dana minimal Rp 3,06 triliun. Ditambah exit strategies serta kontribusi laba bersih yang ditaksir telah mencapai Rp 2,76 triliun. Maka target ekuitas PTPP akan tercapai sebesar Rp 37,35 triliun di 2018.

“Jadi target yang kita tetapkan semua ada kakulasinya, detail dan terjadwal termasuk IPO dan right issue anak usaha kapan dan berapa target dananya. Begitu pula dengan program akuisisi, joint venture dengan overseas serta aksi korporasi penambahan aset lainnya,” ujarnya.

Langkah PTPP menggenjot ekuitas tidak lain demi mendukung ekpansi yang direncanakan. Dikatakannya, dalam empat tahun ke depan PTPP akan menggelontorkan dana belanja modal atau investasi sebesar Rp 174 triliun.

Investasi tersebut menurutnya akan mengalir pada lini bisnis energi sebesar Rp 65 triliun, infrastruktur Rp 60 triliun dan properti khususnya untuk segmen Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Rp 30 triliun. Selebihnya investasi untuk bisnis lain yakni peralatan dan kontruksi.   

Agar investasi yang ditanam maksimal meng-generate kinerja perseroan, Tumiyana mengatakan akan mengintegrasikan tujuh lini bisnis PTPP mulai dari level upstream, midstream hingga downstream. Lini bisnis tersebut terdiri dari properti, energi, infrastrukur, konstruksi, EPC, beton pra cetak (precast) dan peralatan.

Ekspansi massif dengan strategi intergarsi yang melibatkan seluruh elemen usaha meyakinkan PTPP untuk dapat meraup pertumbuhan pendapatan signifikan terutama di tahun 2017 dan 2018.

Bila tahun 2016 revenue PTPP diharapkan mencapai Rp 25 triliun, maka dengan target pertumbuhan 62,9% di 2017 PTPP bisa mengoleksi pendapatan 32,17 triliun. Sementara 2018 mencapai Rp 45,07 triliun atau tumbuh 62,28 triliun. Sementara 2019 tumbuh 22,52% menjadi Rp 56,03 triliun.

Prospek cerah PTPP cermat dilihat PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dengan menaikkan peringkat perusahaan dan surat utang emiten PTPP. Analis Pefindo, Haryo Koconegoro dan Martin Pandingan mengatakan peringkat PTPP dinaikkan dari idA menjadi idA+ dengan prospek stabil. Peringkat juga berlaku untuk surat utang Obligasi Berkelanjutan I Tahap I 2013, Obligasi Berkelanjuta I Tahap II 2015, dan Medium Term Notes XXI Tahun 2014.

Total emisi dari tiga penerbitan surat utang itu mencapai Rp1,3 triliun dan akan jatuh tempo pada 2017, 2018, dan 2020. Pefindo menilai, peringkat PTPP dinaikkan karena perseroan mampu melakukan diversifikasi bisnis sementara profil keuangan tetap dijaga konservatif.