Berbagai Cara Petani Siasati Kekeringan

Oleh : Wiyanto | Kamis, 27 Juni 2019 - 13:35 WIB

Panen padi (Ist)
Panen padi (Ist)

INDUSTRY.co.id

Jakarta - Beberapa wilayah sentra produksi pangan mulai menghadapi ancaman kekeringan dan gagal panen. Namun petani punya cara sendiri menyiasati agar padi yang mereka sudah tanam bisa tetap panen.

Misalnya Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.  Sejumlah petani di kabupaten ini melakukan berbagai cara agar lahan pertanian mereka dapat terselamatkan. Sejumlah petani membuat tempat penampungan air dari terpal di tengah sawah.

Bahkan Pemerintah Kabupaten Indramayu telah mengeluarkan kebijakan pengelolaan gilir giring untuk distribusi air baku di saluran induk Cipelang, terutama pada saluran induk barat untuk musim gadu (MT II) tahun 2019. Kebijakan langkah 37 yakni 3 hari untuk BBT 14 ke hulu yang merupakan wilayah PSDA Cikedung, dan 7 hari BBT 14 ke hilir yang merupakan wilayah PSDA Losarang. “Saya berharap petani yang berada di wilayah hulu tidak menggunakan pompa karena dapat mengurangi distribusi air,” katanya.

Sementara itu petani di Kabupaten Ngawi yang merupakan sentra padi di Jawa Timur menyiasati kekeringan dengan cara pompanisasi hingga melakukan pola tanam sistem salibu. Kabupaten Ngawi memang terkenal sebagai salah satu sentra padi di Jawa Timur.

Memasuki kemarau, pemerintah daerah (Pemda) setempat sudah mengantisipasinya tahun ini. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi, Marsudi mengatakan, sebagian besar sawah di Ngawi ada fasilitas irigasi, sehingga masih memungkinan tanam padi di musim kemarau (MK) tahun ini. “Hanya saja, kami masih ada kendala karena waduk yang ada di Ngawi ini tak besar.  Apalagi sejak Ramadhan ketiga tahun ini sudah tak ada hujan. Jadi, kami prakirakan akan terjadi kemarau panjang nantinya,” papar Marsudi.

Seperti MK tahun-tahun sebelumnya, Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi sudah melakukan antisipasi agar petani tak gagal panen. Artinya, kalau memang daerahnya tak memungkinkan untuk ditanami padi (karena tak ada air,red) petani diimbau tak memaksakan untuk tanam padi. “Kalau tak ada air kami harapkan petani jangan memaksakan untuk tanam padi. Bisa saja tanam palawija, seperti jagung,” ujarnya.

Untuk petani yang berada di lereng Gunung Lawu, Marsudi mengingatkan agar menyesuaikan pola tanam di MK tahun ini.  Misalnya, petani di lereng Gunung Lawu untuk menanam jagung atau tanaman lainnya yang tahan terhadap kekeringan.

Menurut Marsudi, untuk sejumlah kecamatan yang masih ada sumber airnya tapi tak banyak bisa saja tetap tanam padi, dengan bantuan sumur pompa. Benih padi yang ditanam pun menggunakan varietas padi berumur genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpari 38, Situpatenggang, Situbagendit dan varietas lokal lainnya yang tahan kekeringan.

 

Mengatur Pola Tanam Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mandiri Kab Sukoharjo, Sukar mengatakan, menghadapi musim kemarau tahun ini petani dimohon mengelola sistem pola tanam yang tepat sesuai kondisi daerah masing-masing. Kebetulan lahan sawah petani di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari, Kab. Sukoharjo Jawa Tengah (Jateng), sudah ada fasilitas irigasi dan hanya sebagian yang tak mendapat aliran irigasi dari Waduk Gajah Mungkur.

Meski sebagian masih bisa tanam padi,  petani diharapkan menggunakan  bibit padi yang tahan kekeringan. Sebab, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. “Kami meminta petani supaya memanfaatkan sumur pompa apabila air irigasi dari Waduk Gajah Mungkur sudah tak memungkinkan,” ujarnya.

Sukar juga menyarankan, jika lahan sawahnya masih cukup air, petani bisa melakukan pola tanam dengan sistem salin ibu (Salibu). Petani yang memanfaatkan pola tanam Salibu di MK tahun ini sekitar 0,5 ha.

Sementara itu Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Edy Purnawan menilai, perubahan iklim ekstrim yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang, dapat menjadi suatu peluang pada daerah cekungan yang memiliki air tanah dangkal. Pada daerah tersebut dapat diusahakan komoditas pangan dan sayuran.

Contohnya pada Kelompok Tani Tanurejo Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Dengan membuat sumur bor/suntik pada kedalaman 20 m sudah diperoleh air untuk mengairi areal sawah/ kebun di desa tersebut. Ditunjang dengan tanah yang subur serta kemauan para petani, maka dapat dilakukan budidaya berbagai komoditas tanaman.

Salah satu alternatif budidaya tanaman yang diharapkan dapat berpotensi meningkatkan produksi tanaman dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan adalah mengoptimalkan penggunaan lahan kering. Selain karena memang tersedia cukup luas, sebagian dari lahan kering belum diusahakan secara optimal sehingga memungkinkan peluang dalam pengembangannya.

Karena itu perubahan iklim pada pertanian bisa menjadi peluang. Bahkan daerah-daerah potensial bisa mengambil manfaat besar. “Dengan pengamatan yang jeli dan keseriusan untuk menangkap peluang, keuntungan justru diperoleh ketika terjadi perubahan iklim ekstrim,” kata Edy.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Chief Marketing Officer (CMO) SiCepat Ekspres, Wiwin Dewi Herawati dan Vice President IT SiCepat Ekspres, Billy Yosafat, menerima The Best GRC For Performance Management In Marketing & Information Technology in Logistic Service dan The Best CMO and GRC Leader 2020 dalam Governance, Risk, and Compliance (GRC) dan Performing Excellence Award 2020 yang digelar di Auditorium TVRI, Jakarta, 29 Juli 2020. (Foto: Istimewa)

Senin, 03 Agustus 2020 - 22:53 WIB

Berkat Tata Kelola Secara Baik, Perusahaan Industri Pengiriman Ini Raih Penghargaan GRC Award 2020

Jakarta-SiCepat Ekspres Indonesia mendapatkan dua penghargaan pada acara Governance, Risk and Compliance (GRC) and Performance Excellence Award 2020

Pelayanan perbankan di Bank Bukopin (Foto: Doc Bank Bukopin)

Senin, 03 Agustus 2020 - 22:05 WIB

Kookmin Bank Siap Kuasai 67 Persen Saham Bukopin

Bank Bukopin Tbk menargetkan Rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) bisa mencapai 17 persen. 25 Agustus 2020, Bukopin akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) guna membahas…

CEO FIFGROUP Margono Tanuwijaya (kiri) menyerahkan secara simbolis streoform Tebar Kurban Nusantara kepada Camat Cilandak Mundari (tengah) didampingi oleh Human Capital, General Support And Corporate Communication Director FIFGROUP, Esther Sri Harjati. Pada musim haji Idul Adha tahun ini, FIFGROUP menyalurkan Dana Sosial Syariah untuk sedekah kurban senilai Rp 1,7 miliar untuk pembelian 537 kambing dan 2 ekor sapi.

Senin, 03 Agustus 2020 - 22:00 WIB

Dasyat! FIFGROUP Salurkan 579 Hewan Kurban di Seluruh Indonesia

Jakarta-PT Federal International Finance (FIFGROUP) yang merupakan bagian dari Astra Financial dan juga salah satu anak perusahaan PT Astra International Tbk, menyambut Hari Raya Idul Adha dengan…

Bursa Efek Indonesia

Senin, 03 Agustus 2020 - 21:51 WIB

Kabar Gembira! Saham WSBP Dapat Diperdagangkan Kembali

Jakarta-Saham PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) dapat kembali diperdagangkan sehubungan dengan adanya surat resmi dari PT Bursa Efek Indonesia tanggal 30 Juli 2020).

Bank Bukopin (Foto Dok Industry.co.id)

Senin, 03 Agustus 2020 - 21:46 WIB

Fokus UMKM Daya Pikat Kookmin Bank Perkuat Rasio Permodalan Bank Bukopin

Bank Bukopin Tbk mendapatkan dana segar hasil Penawaran Umum Terbatas ke-5 (PUT V) yang diserap Kookmin Bank (KB) sebanyak KB menyerap sekitar 2,97 miliar lembar saham baru selama masa perdagangan…