Rizal Ramli: Pemimpin Harus Utamakan Keinginan Rakyat, Jangan Ambisi Berkuasa

Oleh : Herry Barus | Senin, 13 Mei 2019 - 10:13 WIB

Rizal Ramli (dok RMOL)
Rizal Ramli (dok RMOL)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Tokoh nasional, Rizal Ramli, mengingatkan bahwa pemimpin yang memiliki ambisi dalam melanggengkan kekuasaannya dengan cara curang, sesungguhnya sudah tak memiliki hati lagi pada rakyatnya. Sejatinya, para pemimpin sekarang ini  harus belajar banyak dari para pendahulunya.       

Rizal Ramli-pun mencontohkan sikap bijaksana yang ditujukan Presiden RI ke-1, Sukarno yang legowo mundur dari singgasana saat masyarakat telah  terbelah antara yang pro dan kontra terhadap Sang  Proklamator. 

"Seandainya Bung Karno putuskan untuk melawan Soeharto waktu itu, Sukarno masih bisa menang loh, karena Angkatan Laut sama dia, Angkatan Udara sama dia, Angkatan Darat masih banyak yang loyal sama dia, rakyat biasa juga banyak yang sangat loyal sama Bung Karno," tutur Rizal Ramli, Sabtu (11/5/2019).

"Artinya, kalau dia (Sukarno) perintahkan lawan Soeharto, Sukarno tetap bisa bertahan. Tapi, karena Soekarno tahu kalau ambil keputusan itu, korban dari rakyat pasti banyak banget, sehingga akhirnya Bung Karno legowo. Ya dia akhirnya ditahan, ditangkap dan sebagainya," tukas mantan Menko Ekuin era pemerintahan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu.

Kemudian, sambung Rizal Ramli, Presiden RI ke-2, Soeharto di akhir masa kepemimpinannya-pun menyadari bahwa rakyat sudah tak lagi menghendakinya untuk berkuasa. Namun, memang  kesadaran itu muncul saat terjadi huru hara di beberapa daerah, termasuk DKI Jakarta pada Mei 1998. Meski berkuasa dan ABRI masih dibawah kendalinya, alih-alih Soeharto legowo untuk mundur. 

"Soeharto waktu pulang dari Mesir, situasi di Indonesia sudah karut marut. Lalu, dia bertanya pada Wiranto yang kala itu menjabat sebagai Pangab soal situasi yang sudah chaos. Pak Wiranto memastikan kalau ABRI bisa all out, tapi korban dari rakyat banyak banget. Pak Harto-pun akhirnya memilih untuk mundur, dan situasi di Indonesia-pun kondusif," ungkap Rizal Ramli.

Kemudian, tambah Rizal Ramli, sikap bijaksana dan negarawan juga ditunjukan oleh Presiden RI ke-3, BJ Habibie yang menyadari bahwa rakyat tak menghendakinya memimpin Indonesia, mengingat demontrasi dari kalangan masyarakat saat ia memimpin seolah tak ada hentinya. 

"Tapi, kalau dia ikut di pemilihan presiden, bisa-bisa dia menang. Sebagai petahana mungkin dia bisa menggunakan instrumen negara untuk melakukan curang sangat bisa. Tapi, dia tahu, habis itu dia akan didemonstrasi terus, dia juga gak bisa merintah yang bener, akhirnya kan Habibie mutuskan tidak mau maju jadi calon presiden," imbuh Rizal Ramli.

Begitu juga dengan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Kala itu, dikisahkan Rizal Ramli, mantan Ketua Umum PBNU tersebut diimpeach di DPR-MPR, sehingga membuat para Nahdliyin geram dan berencana bergerak ke Jakarta untuk mengamankan posisi Gus Dur.  

"Tapi, dia (Gus Dur) yang nelpon NU di seluruh Indonesia, Banser, dan GP Ansor supaya jangan ngirim orang ke Jakarta, tadinya udah pada mau bergerak dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi dia telpon karena dia gak mau korban berjatuhan dari rakyat," ungkap Rizal.

Sikap bijaksana seorang pemimpin, menurut Rizal Ramli, juga terlihat dari Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri yang fair dalam berkompetisi di Pilpres 2004. 

 

"Mega sangat demokratis. Sebagai petahana, bisa saja Mbak Mega main curang di Pemilu 2004 dengan memanfaatkan kekuasaannya, yakni menggunakan instrumen negara seperti polisi dan pakai tentara. Kalaupun kalah, Mbak Mega kalah dengan terhormat," imbuh Rizal Ramli.

Jadi, Rizal Ramli kembali mengingatkan bahwa pemimpin Indonesia harus mengutamakan keinginan rakyat ketimbang memenuhi ego-nya.

"Harusnya pemimpin hari ini belajar dari sejarah, jangan ngotot, jangan ngeyel, hanya sekedar mau kuasa, toh prestasinya pas-pasan dan ekonomi memble di 5%. Dari 5 pimpinan Indonesia sebelumnya, semua itu nrimo, bahwa ketika waktunya rakyat sudah gak mau mereka, mereka legowo mengundurkan diri, gak ngotot, karena mereka tau korbannya rakyat,” tandas Rizal Raml

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Rupiah (Foto Dok Industry.co.id)

Kamis, 18 Juli 2019 - 08:07 WIB

Semester I 2019, KUR BRI Diakses 2,3 Juta Nasabah

Jakarta – PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. terus mengucurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mendorong pemberdayaan pelaku UMKM di Indonesia. Selama periode Januari hingga Juni 2019,…

PT Pupuk Kujang Bangun Pabrik CO2 Cair di Cikampek

Kamis, 18 Juli 2019 - 08:00 WIB

PT Pupuk Kujang Bangun Pabrik CO2 Cair di Cikampek

PT Pupuk Kujang sebagai anak perusahaan dari PT Pupuk Indonesia (Persero) mengembangkan usaha dan bisnisnya dengan membangun pabrik CO2 di Cikampek, Jawa Barat. Dengan menggandeng PT Rekayasa…

Waskita (ist)

Kamis, 18 Juli 2019 - 07:13 WIB

Cegah Korupsi, Waskita Karya Wajibkan Kepala Proyek Lapor LHKPN ke KPK

Jakarta– PT Waskita Karya (Persero) Tbk (kode saham: WSKT) mendukung penuh imbauan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang meminta agar BUMN maupun swasta berkomitmen mencegah terjadinya penyimpangan.

Menteri BUMN Rini Soemarno (Foto Humas BUMN))

Kamis, 18 Juli 2019 - 07:00 WIB

Menteri Rini: INKA Bangun Pabrik Kereta Api Terbesar se-Asia Tenggara di Banyuwangi

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarno meninjau progres pembangunan workshop atau pabrik kereta api milik PT Industri Kereta Api (Persero) di Banyuwangi, Jawa Timur. Pembangunan…

Go Work

Kamis, 18 Juli 2019 - 06:37 WIB

Kebahagiaan dalam Bekerja: Sebuah Observasi Atas Peran Dinamis Lingkungan Pekerjaan

Akhir tahun lalu, LinkedIn melakukan survei mendalam terhadap 2.000 karyawan profesional tentang sebuah topik mengenai “kebahagiaan di tempat kerja” (kondisi yang kita perjuangkan, tetapi…