INDUSTRY.co.id, Jakarta-Dalam upaya pemindahan Ibukota Negara, Kalimantan Timur masuk sebagai salah satu alternatif setelah provinsi tersebut dikunjungi oleh Presiden Joko Widodo bersama jajaran kabinet Kerja. Kesiapan dari segi infrastruktur dinilai telah layak untuk menjadikan Kalimantan Timur sebagai kandidat.
Dalam pembangunan Kalimantan Timur, erat kaitannya dengan WIKA. Portofolio Perseroan di Kalimantan Timur terdiri dari sederet karya istimewa di antaranya PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) 2x50/60 MW Kalimantan Timur (Kaltim), dan Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan (SAMS) sebagai pintu masuk menuju Provinsi Kaltim. Kini yang tengah dikerjakan oleh Pembangunan Jalan Tol Balikpapan - Samarinda yang akan menjadi jalan tol pertama di Kalimantan sekaligus menghubungkan kedua kota terbesar di Kalimantan Timur tersebut.
Sementara itu, tidak jauh dari situ, di Kalimantan Tengah yang merupakan kandidat lainnya, WIKA juga mengerjakan proyek Jembatan Tumbang - Samba yang menjadi jembatan terpanjang lintas tengah Kalimantan. Memasuki bulan ke-24, pengerjaan jembatan ini sudah mencapai progress 88,44% dan ditargetkan akan selesai pada November 2019. Jembatan Tumbang Samba akan membuat menghubungkan jalur lintas tengah Kalimantan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang dilalui yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya yaitu sawit, karet dan pertambangan.
Jembatan sepanjang 823 meter tersebut dibangun dengan menggunakan teknologi _Modified Network Tied Arch Bridge_ yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia. Dengan bentang utama jembatan pelengkung sepanjang 108 meter dan lebar 11,8 meter lengkap dengan _Hanger Network Tension Rod,_ jembatan ini dibangun atas sinergi dengan entitas anak WIKA, yaitu WIKA Industri & Kontruksi (WIKON) yang telah memiliki asam garam dan portofolio panjang dalam hal fabrikasi baja (jembatan, conveyor, platework), alat berat, dan industri manufaktur.
Masuknya Kalimantan Timur sebagai kandidat merupakan cerminan bahwa provinsi ini menyimpan begitu banyak potensi pembangunan. Bagi Tumiyana, WIKA selalu siap untuk ambil bagian dalam mempersiapkan ibukota baru dari segi infrastruktur di berbagai sektor.
"WIKA sudah kuat dari segi industri, baik baja, beton, maupun aspal yang kemudian menyokong konstruksi dan infrastruktur sebagai bisnis utamanya. Sehingga kapan saja, Pemerintah butuh, kami siap untuk berada di barisan terdepan untuk terlibat dalam misi besar tersebut," ungkap Tumiyana.
Selain dari segi konstruksi, Tumiyana pun menanggapi wacana tersebut sebagai sebuah peluang besar untuk melaksanakan investasi di bidang properti. WIKA kini menjadikan investasi sebagai arah bisnis masa depan perusahaan guna mendapatkan _recurring income_ (pendapatan berulang). Bagi Tumiyana, pengembangan suatu kawasan akan memiliki prospek besar untuk bertumbuhnya kawasan-kawasan hunian dengan nilai jual yang naik signifikan dalam waktu yang relatif singkat.