INDUSTRY.co.id, Cikarang - Dianne Dhamayanti seorang Praktisi Pemberdayaan Masyarakat dan peraih penghargaan dari UNESCO menjadi bintang tamu dalam acara “Pelatihan Kerajinan Tangan Senior” pada tanggal 2-4 Maret 2017 di Senior Living D’Khayangan, Jababeka Cikarang.
Pada acara tersebut, Dianne mengajak para ibu-ibu rumah tangga tersebut untuk bersemangat membuat kerajinan tangan dari bahan dasar koran bekas. “Mari ibu-ibu, kita semangat bikin koran bekas ini menjadi hasil karya yang bisa ada nilainya,” ujarnya
Hasilnya pun bervariasi mulai dari tas tangan hingga tempat tisu dan aksesori rumah tangga lainnya. Pada acara kali ini diikuti oleh 15 orang ibu-ibu yang bertempat tinggal di Cikarang.Aksi pemberdayaan perempuan ini bukanlah yang pertama, karena sebelumnya Dianne memang rutin berbakti hingga ada 13 Desa Binaan di Jababeka Cikarang.
Di tempat ini juga Dianne juga mengembangkan program Desa Literasi dan Vokasi melalui Taman Baca Masyarakat (TBM) agar anak-anak mau membaca.
Seluruh aktivitas tersebutlah yang membuatnya dilirik oleh UNESCO.
Organisasi dunia di bidang ini mengajaknya berbagi ilmu ke seluruh penjuru negeri. UNESCO memberi kontrak bagi Dianne untuk membagi pengalamannya di Timor Leste, Singapura, Malaysia, Thailand, Korea, dan Cina. Bagi Dianne, perjalanannya ke Kalimantan, Nunukan, adalah pengalaman berharga.
“Saat itu Kementerian Pendidikan meminta saya mengajar di Nunukan. Ada 7.000 kepala keluarga yang saya kumpulkan dan saya ajak menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya sungguh sedih, karena mereka tidak tahu lagu itu. Kemudian liriknya saya tulis di kertas dan dibagikan. Ternyata mereka tidak bisa membaca,” tutur Dianne.
Akhirnya, Dianne membacakan setiap lirik lagu agar diikuti. Setelah mulai hafal, Dianne mengenalkan lagu Halo-Halo Bandung dan Pusaka Indonesia.
Padahal awalnya, menurut Dianne, dirinya bukan siapa-siapa. Hanya seorang pedagang pakaian di Pasar Cikarang yang barang-barangnya habis dijarah perusuh pada Mei 1998. Kendati demikian, dia tidak larut dalam kesedihan. Musibah itu mendorongnya membuka lembaga pendidikan buat anak-anak kurang mampu dan tidak sekolah yang kerap berkumpul di sebelah tokonya.
Dianne membentuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Modeslavidi. Tempat ini mengajarkan anak-anak belajar membaca dan berhitung, dari PAUD, TK sampai SD. Di ruang belajar ini juga disediakan pendidikan kesetaraan untuk Paket A, B, dan C.
“Saya tidak mempunyai pendidikan guru, tapi dengan perasaan saya sebagai seorang ibu dalam merawat anak-anak, semua itu saya jadikan pengalaman untuk mengajar,” ujar ibu dari salah satu putri yang lulus kuliah S-2 di Jerman dan memiliki kemampuan tujuh bahasa itu.
Dengan seluruh aktivitas itu, Dianne mengaku bahwa memberdayakan masyarakat tidak bisa dilakukan sendiri. Dianne akhirnya datang menemui Jababeka untuk bersama-sama mewujudkan mimpi tersebut melalui Program Jababeka Peduli.
Pemilik Jababeka & Co S.D. Darmono mengatakan, melalui program corporate social responsibility, Jababeka & Co mengajak Dianne bergabung menjadi advisor. “Dianne menjadi pilihan yang tepat karena perempuan ini sangat peduli terhadap permasalahan sosial, dan kegiatannya telah menjadi perhatian dunia, khususnya UNESCO,” ujar Darmono. (Tpp)