Pulau Bidadari Tawarkan Wisata Alam Masih Sangat Alami

Oleh : Herry Barus | Minggu, 24 Maret 2019 - 16:00 WIB

Pulau Bidadari (Foto Dok PT Pembangunan Jaya)
Pulau Bidadari (Foto Dok PT Pembangunan Jaya)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pulau Bidadari merupakan salah satu gugusan pulau yang terdapat di Kepulauan Seribu yang dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari. Merupakan pulau terdekat dengan Teluk Jakarta menjadikan Pulau Bidadari sebagai salah satu pulau yang cukup diminati oleh wisatawan.

Pada jaman penjajahan Belanda, tepatnya masa-masa kegiatan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, tempat ini dijadikan sebagai tempat penampungan bagi orang sakit. VOC pada abad ke-17 membangun sarana dan prasarana rumah sakit (lazaretto) sebagai penunjang untuk menyembuhkan para penderita yang terjangkit, sehingga sebelum bernama Pulau  Bidadari, pulau ini bernama Pulau Sakit.

Seperti layaknya pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu , Pulau  Bidadari juga mempunyai nama Belanda yakni pulau Purmerend. Pulau Bidadari bersama dengan tiga pulau lainnya yakni Onrust, Cipir (De Kuiper) dan Kelor (Kerkhof), menjadi saksi sejarah penting dimana keempat pulau ini menjadi tempat pertahanan, penyimpanan rempah-rempah sebelum dikirim ke Belanda dan menjadikan pulau-pulau tersebut sebagai area pengawasan atau pertahanan pertama sebelum masuk ke wilayah pemerintahan di Batavia.

Dalam perjalanannya, pulau ini mengalami catatan perang cukup panjang karena banyak yang ingin mendudukinya. Pada tahun 1800, armada laut Britania Raya melakukan penyerangan terhadap pulau tersebut, dan direbut kembali oleh Belanda tahun 1803. Tahun 1806, Britania Raya kembali menyerang dan menghancurkan tempat tersebut sampai ke Pulau  Onrust. Peninggalan sisa -sisa peperangan tersebut adalah Benteng Martello.

Benteng dengan 3 lapis dinding pertahanan ini selesai dibangun  pada tahun 1805. Benteng Martello, awalnya adalah bangunan pertahanan yang dibangun oleh Inggris di berbagai daerah jajahannya di seluruh dunia yang terinspirasi dari benteng Mortella di Corsica, Laut Tengah yang dirancang oleh Giovan Giacomo Paleari Fratino.

Nama aslinya adalah Mortella seringkali salah diucapkan menjadi Martello (yang berarti “Palu” dalam bahasa Italia). Benteng yang saat ini masih berdiri merupakan sisa dari benteng aslinya yang lebih luas. Sebagian besar benteng runtuh dan rusak karena gempa Jakarta pada tahun 1966 dan akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, dimana letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, bahkan suara letusannya terdengar hingga pulau Bidadari dan juga Batavia.

Akibat berbagai kerusakan tersebut, pemerintah Hindia-Belanda telah membangun kembali pulau tersebut, termasuk membangun sarana dan prasarana asrama haji bagi masyarakat yang ingin pergi ke Mekah menggunakan kapal laut. Asrama haji yang dibangun pemerintah Hindia-Belanda berfungsi sampai dengan tahun 1933 sampai akhirnya kembali direbut oleh pemerintah Indonesia, dan sejak saat itu sampai tahun 1970 pulau ini tidak berpenghuni.

PT Pembangunan Jaya Ancol kemudian mengganti nama pulau menjadi Pulau Bidadari dan mengelolanya sebagai sebuah kawasan wisata bahari dan resort sejak tahun 1972. Sejak saat itu pulau seluas enam hektar tersebut menjadi obyek wisata dengan berbagai fasilitas serta sarana dan prasarana penunjang bagi masyarakat yang ingin berlibur dan menjadi salah satu destinasi wisata yang kerap dikunjungi wisatawan.

Selain nilai sejarahnya, pulau ini juga menawarkan wisata alam yang masih sangat alami. Berada diantara Pulau Onrust, Pulau Kelor dan Pulau Cipir, Pulau Bidadari memiliki sejarah yang menarik.

Sejarah yang sangat kuat ini kemudian menjadi ide untuk merubah bentuk dan konsep dari Bidadari Resort yang sebelumnya. Adalah “Gateway To Batavia” tema baru yang diusung dengan mengedepankan kebudayaan pada era Jakarta tempo dulu. Memiliki cottages dengan 3 kebudayaan berbeda yaitu Betawi, Pecinan dan Heritage serta 2 restoran dengan infinity pool dan cafe.

Kedepannya, Pulau Bidadari akan memasuki Digital Island di mana akan menyediakan berbagai hal yang berkaitan dengan teknologi, seperti pembelian tiket menggunakan online, metode transaksi disana menggunakan eWallet atau scan QR code.

“Dengan hadirnya nuansa baru di Pulau Bidadari kami berharap pengunjung dapat bernostalgia dengan kenangan Jakarta tempo dulu, namun tetap kekinian. Sehingga pengunjung bisa merasakan pengalaman yang baru dan berbeda berlibur di pulau ini.” uar C. Paul Tehusijarana, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Wahyu Kuncoro Resmi Dampingi Dirut Pegadaian

Selasa, 19 November 2019 - 17:12 WIB

Kementerian BUMN Tunjuk Wahyu Kuncoro Sebagai Wadirut Pegadaian Dampingi Kuswiyoto

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melantik Wahyu Kuncoro sebagai Wadirut PT Pegadaian (Persero) dan menyerahkan Salinan Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Selaku Wakil Pemerintah…

Asahimas Group

Selasa, 19 November 2019 - 16:31 WIB

Produsen Kaca Asal Jepang Harap Harga Gas Industri di Indonesia Tidak Naik

Perusahaan kaca asal Jepang Asahimas meminta agar harga gas untuk industri di Indonesia tidak naik, bahkan jika memungkinkan harganya bisa turun.

Ilustrasi Industri Otomotif (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Selasa, 19 November 2019 - 15:30 WIB

Menperin Agus Gumiwang Pastikan Raksasa Otomotif Bakal Tambah Investasi di Indonesia

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan pertemuan dengan sejumlah perusahaan otomotif ternama Jepang.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri

Selasa, 19 November 2019 - 15:29 WIB

PDB Pertanian RI Urutan ke 5 Dunia

Jakarta - Anggaran Kementerian Pertanian kini tinggal Rp21 triliun dari sebelumnya Rp32 triliun. Anggaran tersebut untuk menggenjot sektor pertanian. Bahkan Product Domestik Bruto (PDB) sektor…

South Pacific Viscose Rampungkan Pengerukan Sungai Citarum

Selasa, 19 November 2019 - 15:00 WIB

South Pacific Viscose Rampungkan Pengerukan Sungai Citarum

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya SPV untuk revitalisasi dan pencegahan pencemaran lingkungan serta menerapkan praktik bisnis yang berkelanjutan.