INDUSTRY.co.id -Bandar Lampung, Kementerian Perindustrian Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) terus melakukan berbagai pembinaan untuk mendorong penumbuhan wirausaha industri baru di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) melalui program Santripreneur.
Upaya pemberdayaan para santri tersebut, diyakini mampu meningkatkan kemampuan para santripreneur dalam menghadapi era industri digital serta dapat meningkatkan produktivitas masyarakat sehingga turut memacu perekonomian nasional.
Untuk itu Ditjen IKMA menyelenggarakan Kegiatan Fasilitasi Pemasaran Digital yang diadakan di Pondok Pesantren Terpadu Ushuluddin, Kabupaten Lampung Selatan, Kamis (14/2).
"Melalui penyelenggaraan acara ini diharapkan dapat meningkatkan jangkauan akses pemasaran produk-produk industri kecil menengah milik Pondok Pesantren Terpadu Ushuluddin, sehingga mampu mendorong kemandirian umat sebagaimana yang dicita-citakan oleh Pemerintah Indonesia," Katanya.
Gati menjelaskan pelaksanaan kegiatan Fasilitasi Pemasaran Digital ini merupakan bentuk komitmen Dirjen IKMA Kemenperin dalam menumbuh kembangkan wirausaha baru di lingkungan pondok pesantren atau yang dikenal dengan Santripreneur.
"kami tidak hanya memberikan ketrampilan teknis berproduksi yang baik tetapi juga memberikan fasilitas akses pemasaran utamanya melalui online atau dunia digital," Ujar Gati.
Gati mengatakan selama periode tahun 2013 hingga tahun 2018, Ditjen IKMA telah membina sebanyak 20 pondok pesantren dengan lebih dari 3000 santri telah diberikan pelatihan produksi, serta motivasi kewirausahaan.
"Cakupan ruang lingkup pembinaan kami diantaranya pelatihan produksi dan bantuan mesin/peralatan di bidang: olahan pangan & minuman (roti dan kopi); perbengkelan roda dua; kerajinan boneka dan kain perca; konveksi busana muslim & seragam; daur ulang sampah dan produksi pupuk organik cair," Jelas Gati.
Dalam kegiatan kali ini, Ditjen IKMA mengajak serta Bukalapak, sebagai salah satu platform marketplace karya anak bangsa, untuk ikut berbagi ilmu bagaimana memulai, berjualan hingga mengembangkan pasar untuk meningkatkan nilai ekonomi yang ada di pondok pesantren melalui online.
Pondok Pesantren yang mempunyai jumlah santri sebanyak 673 santri ini juga mempunyai beberapa kegiatan usaha lain yaitu Konveksi (busana muslim & seragam); Kuliner (Saung Pontren); Minimarket dan Budidaya Ikan lele.
"Agar produk-produk IKM Pondok Pesantren Terpadu Ushuluddin mampu bersaing di pasar maka harus didukung oleh kemasan yang baik dan menarik serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) utamanya merek. Untuk itu kami juga akan memberikan bantuan desain kemasan kepada Pondok Pesantren Ushuluddin, yang akan difasilitasi Klinik Pengembangan Desain dan Merek Ditjen IKMA serta fasilitasi pendaftaran merek melalui Klinik HKI Ditjen IKMA," papar Gati.
Ketua Pondok Pesantren terpadu Ushuluddin, KH. Ahmad Rafiq Udin menyambut baik pelaksanaan program Santripreneur, fasilitasi desain merek dan kemasan serta fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang diinisiasi oleh Kemenperin.
Menurutnya, program ini dapat menambah kegiatan positif bagi para santri di lingkungan pondok. Selain itu, melalui usahanya nanti, para santi berguna bagi masyarakat menumbuhkan perekonomian daerah setempat seperti penyerapan tenaga kerja.
Pondok Pesantren yang berdiri sejak tahun 2001 ini memliki unit pendidikan, antara lain Taman Kanak-kanak Harapan, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Ushuluddin, Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin, dan Madrasah Aliyah Terpadu Ushuluddin.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Lampung Mulyadi Irsyan mengungkapkan, program ini merupakan komitmen pemerintah untuk mendorong penumbuhan wirausaha baru khususnya di lingkungan Pondok Pesantren.
Menurutnya, Pondok Pesantren sangat berpeluang menciptakan wirausaha baru. Namun, diperlukan kreatifitas dan inovasi untuk menghadapi tantangan pasar khususnya di era digital.
"Program ini harus diiringi dengan kreatifitas, ini yang harus kita dorong," terangnya.
Ia meyakini para santri di lingkungan Pondok Pesantren khususnya Ponpes Terpadu Ushuluddin mampu mengimplementasikan revolusi industri keempat.
"Dengam begitu produk-produk hasil usaha dan kerajinan pesantren Ushuluddin mampu menembus pasar digital," imbuhnya.
Mulyadi berharap program ini dapat menciptakan wirausaha baru di lingkungan Pondok Pesantren sehingga mampu mengikis angka kemiskinan yang masih tinggi di Provinsi Lampung.