INDUSTRY.co.id - Jakarta- Pertanyaan-pertanyaan yang umumnya timbul adalah apakah isu politik identitas dan hoaks benar-benar akan menurunkan kualitas demokrasi Indonesia di Pemilu nanti?

Advertisement

Politik identitas dan hoaks menjadi dua konsen isu yang belakangan kerap dibahas jelang Pemilu 2019. Dua isu ini menjadi sentral perdebatan dan menggeser gagasan kampanye berbasis program. Berbagai kekhawatiran pun muncul terkait kemampuan destruktif yang akan mungkin ditimbulkan dua isu ini terhadap kualitas demokrasi Indonesia,” jelas Stephanie Tangkilisan seorang pembuat film dokumenter yang saat ini menetap di New York, Kamis (17/1/2019)

 Pasalnya, politik identitas telah menjadi konsen isu yang cukup lama masuk dalam perdebatan politik elektoral, bahkan telah muncul sejak tahun 1960-an di Amerika Serikat (AS). Sementara, hoaks sebagai propaganda politik telah menjadi bagian dari kampanye elektoral sejak Pemilu pertama kali terjadi di Indonesia pada tahun 1955.

Advertisement

Jika dibandingkan dengan yang terjadi di AS, memang ada situasi yang kontras, di mana politik identitas di Indonesia cenderung dimaknai secara “berlebihan” serta dianggap berbahaya. Sementara di AS, politik identitas dianggap sebagai hal yang biasa dan menjadi makanan politik wajib yang dikonsumsi masyarakat bukan hanya saat Pemilu saja, tetapi juga dalam kehidupan setiap hari.

Dalam catatan Stephanie peraih  M.S. dengan spesialisasi di bidang dokumenter dari Columbia Journalism School, setidaknya ada beberapa variabel yang membuat kondisi pemaknaan politik identitas di Indonesia cenderung berbeda:

Advertisement
  • Belum adanya gagasan yang kuat untuk menepis dan menetralisir politik identitas itu sendiri. Pancasila dan gagasan NKRI belum mampu memainkan perannya secara maksimal.
  • Institusi negara dan penegak hukum belum punya sikap yang jelas dalam menghadapi isu politik identitas.
  • Belum adanya rasa empati sosial untuk menyelesaikan politik identitas secara adil dan berimbang.
  • Masih kuatnya efek sejarah sejak era kolonial yang membuat pemisahan-pemisahan dalam struktur masyarakat.
  • Konteks disparitas ekonomi-politik yang terjadi selama era Orde Baru yang menyebabkan politik identitas menjadi saluran aspirasi kesenjangan sosial.       

Oleh karena itu, dalam rangka memperingati hari jadi PinterPolitik.com, poin-poin tersebut akan menjadi intisari pembahasan sebagai diskursus utama jelang Pemilu 2019.

Sebelum memutuskan terjun di dunia jurnalistik Amerika Serikat, Stephanie ikut mendirikan portal berita politik analisis yang bernama PinterPolitik.com yang saat ini telah menginjak tahun keduanya. Platform ini sudah diikuti oleh lebih dari 197.000 pengguna di Facebook, 91.000 di Instagram dan 4.500 di Twitter

Advertisement

Selama dua tahun belakangan ini, Stephanie menjalani pendidikan dan karir di Amerika Serikat sebagai seorang jurnalis. Pada proyek pertamanya Stephanie berhasil memenangkan Hibah Keadilan Pidana Proyek Vital, yang telah mendanai pembuat film multi-pemenang penghargaan Oscar. Filmnya juga didukung oleh The Joyce A. de Groot Memorial Fund, The Patsy Pulitzer Preston Fund, Michael dan Ramelle Pulitzer, serta The Charina Endowment

Karyanya juga didukung secara finansial oleh Women Makes Movies, sebuah organisasi nirlaba selektif berbasis di New York yang mendukung pembuat film wanita dan memiliki banyak pemenang Emmy dan Oscar di daftar nama mereka.

Sejak karyanya didanai oleh Women Makes Movie, Stephanie berkesempatan untuk memproduksi film bersama pemenang multi-Emmy, Jeff Newton, yang juga disusun bersama dengan komposer pemenang Sundance, Troy Herrion. Festival filmnya yang saat ini sedang dirilisnya, diperkirakan akan berlangsung tahun depan, serta akan mulai dikampanyekan oleh berbagai komunitas di New York dan festival di seluruh Amerika Serikat.