INDUSTRY.co.id -

Jakarta - Adanya sentimen positif dari rendahnya defisit tampaknya tidak banyak mempengaruhi laju IHSG.Kementerian Keuangan juga mencatat defisit APBN 2018 hingga akhir November sebesar Rp 287,9 triliun, atau lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 sebesar Rp 349,6 triliun.

"IHSG yang cenderung mengalami pelemahan karena diimbangi oleh sentimen global dan adanya berbagai komentar negatif terkait defisit tersebut karena ketidakpahaman dalam memahami postur dan struktur APBN," ujar Analis Pasar Modal Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (26/12/2018).

Dikatakan, berkurangnya defisit anggaran tersebut sejalan dengan pendapatan negara yang mengalami kenaikan. Dari rilis APBN, hingga akhir bulan November 2018, penerimaan pendapatan negara dan hibah telah terealisasi sebesar Rp1.662,94 triliun atau mencapai 87,77 persen dari target penerimaannya pada APBN 2018. Sementara, untuk kinerja penyerapan belanja negara meningkat 11,06 persen (yoy) yang mencapai Rp1.942,93 triliun atau 87,49 persen dari pagu APBN tahun 2018.

Berdasarkan realisasi pendapatan negara dan belanja negara tersebut maka realisasi defisit anggaran sebesar Rp279,99 triliun atau 1,89 persen terhadap PDB yang terlihat lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 2,59 persen. Upaya pemerintah dalam meningkatkan pendapatan negara meski juga dibarengi dengan relaksasi perpajakan untuk menjangkau lebih banyak potensi pajak meski positif secara makroekonomi dan pengelolaan APBN namun, juga belum banyak berimbas pada IHSG. Kondisi negatif juga dirasakan dari sisi belanja negara terutama pada peningkatan realiasasi belanja Kementerian PUPR yang mengalami peningkatan dan telah terserap lebih dari 70 persen terhadap APBN juga tidak banyak direspon positif pelaku pasar.

Tidak hanya itu, adanya rilis posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2018 yang tercatat sebesar USD117,2 miliar, atau meningkat USD2,0 miliar dibandingkan cadangan devisa pada akhir Oktober 2018 tidak juga direspon positif karena secara YoY masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

"Tentunya, penurunan ini merupakan konsekuensi atas upaya Bank Indonesia (BI) dalam menahan agar Rupiah tidak melemah lebih dalam akibat imbas dari kondisi global dan adanya persepsi negatif terhadap kondisi makroekonomi Indonesia," katanya.