INDUSTRY.co.id -
Jakarta - Laju bursa saham Asia melanjutkan pelemahan sebelumnya seiring dengan reaksi negatif pelaku pasar terhadap hasil pertemuan FOMC yang menaikan tingkat suku bunga The Fed. Adanya kenaikan tersebut membuat pelaku pasar khawatir perlambatan ekonomi global masih akan berlangsung.
"Ditambah lagi dengan masih adanya imbas perang dagang antara Tiongkok dan AS. Meski melemah namun, tertahan dengan langkah PBOC yang tetap mempertahankan tingkat suku bunganya. Pelemahan juga dipicu masih turunnya saham Softbank pasca melantai di bursa saham Jepang," kata analis Pasar Modal Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (21/12/2018).
Pergerakan bursa saham Eropa juga akhirnya mengikuti bursa saham Asia yang berbalik melemah. Pelaku pasar memanfaatkan kenaikan sebelumnya untuk melakukan aksi ambil untung setelah merespon keputusan The Fed yang menaikan tingkat suku bunganya. Di sisi lain, penurunan saham Airbus dengan adanya sentimen investigasi dari pengadilan AS berimbas pada terjadinya aksi jual dan merembet ke saham-saham lainnya. Indeks pan-European Stoxx berbalik turun 1 persen dengan tekanan pada sejumlah saham.
Pergerakan pasar saham AS masih kembali melanjutkan pelemahannya seiring sikap negatif pelaku pasar dalam merespon keputusan The Fed tersebut. Saham-saham berkapitalisasi besar masih menjadi incaran aksi jual.
Kali ini, aksi jual menerpa saham UnitedHealth dan Home Depot yang diikuti oleh saham-saham teknologi, a.l Alphabet dan Facebook. Adanya langkah The Fed tersebut dinilai bahwa nantinya The Fed belum tentu akan memperlambat laju kenaikan suku bunga The Fed di tahun depan sehingga aksi jual pun masih kerap terjadi.
Di sisi lain, pelemahan juga dipicu kekhawatiran akan terjadinya _shutdown_ pemerintahan setelah juru bicara DPR, Paul Ryan, mengumumkan Presiden Trump tidak akan menandatangani resolusi pendanaan sementara pemerintahan.