INDUSTRY.co.id -

Jakarta - Pergerakan bursa saham Asia cenderung variatif melemah seiring dengan aksi menahan diri pelaku pasar. Di sisi lain, pelemahan juga terimbas dari pergerakan saham Softbank Corp yang mengalami penurunan pada pencatatan saham perdananya di bursa saham Jepang. Penurunan tersebut tidak sesuai dengan harapan dimana diyakini akan mengalami kenaikan.

"Pergerakan bursa saham Tiongkok juga tak luput dari pergerakan variatif dimana Shenzhen dan Shanghai melemah namun, HangSeng positif," ujar analis Pasar Modal Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (20/12/2018).

Laju bursa saham Eropa mampu bergerak menguat seiring dengan perkiraan langkah The Fed yang tidak akan kembali mengetatkan kebijakan moneternya atau kembali menaikan suku bunganya. Aksi beli ini terjadi di tengah adanya pelemahan harga kontrak minyak mentah dunia namun, tampaknya pelaku pasar tidak terlalu bereaksi berlebihan. Indeks pan-European Stoxx mampu berbalik naik 0,2 persen dengan dorongan pada sejumlah saham. Pelaku pasar memanfaatkan pelemahan sebelumnya untuk kembali masuk. Saham-saham perbankan kembali menguat seiring dengan harapan adanya pertemuan informal antara Italia dan Uni Eropa dapat mengatasi masalah anggaran Italia.

Pasca pertemuan The Fed dimana akhirnya menaikan tingkat suku bunganya, laju bursa saham AS berbalik melemah. The Fed menggenapkan kenaikan 4 kalinya pada pertemuan di bulan Desember ini. Harapan akan kebijakan The Fed yang tidak akan agresif dalam menaikan tingkat suku bunganya tampak sirna dengan keputusan The Fed tersebut. Akibatnya laju kenaikan indeks saham AS pun terhapuskan ketika di awal sempat menguat. The Fed menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 bps ke kisaran 2,25%-2,50%.

"Perkiraan pelaku pasar yang menilai kemungkinan The Fed tidak akan agresif dalam menaikan suku bunga acuannya dinilai tidak sesuai harapan," katanya.