INDUSTRY.co.id - Jakarta,–Lingkaran diskriminasi, kekerasan dan stigmatisasi yang menyasar kelompok Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender menjadi faktor pendorong ketertutupan yang sebenarnya merugikan bagi anggota komunitas itu sendiri dan berdampak serius pada kepentingan publik.
Upaya pemerintah untuk mendorong penghapusan stigma dan diskriminasi menjadi persoalan penting untuk mengurangi resiko penularan infeksi HIV & AIDS serta memberikan kesempatan bagi komunitas LGBT dalam keragaman manusia dan menikmati hak-hak dasarnya.
Hal tersebut merupakan nukilan dari buku “Tumbuh Bagai Ilalang” yang dirilis oleh Universitas Atma. Buku ini merupakan pengembangan dari skripsi Kevin Suhardjo S. Psi mengenai dinamika perubahan pekerja seks waria dan gay di Jakarta, di bawah bimbingan Prof. Irwanto, Ph.D.
Metode penulisan buku ini adalah wawancara terbuka metode life-history pada 10 waria dan 5 gay di Jakarta. Didapati berbagai peristiwa diskriminatif dan stigmatisasi pada kedua kelompok subyek dari berbagai pihak (Institusi keluarga, komunitas, sekolah, tempat kerja hingga peraturan negara) yang mempengaruhi struktur kognitif dan perspektif subyek terhadap dirinya sendiri.
“Kompleksitas masalah kaum Transgender lebih besar karena adanya konflik internal terkait tubuh dan seksualitasnya, sementara kaum Gay lebih mengarah pada hal tanggung jawab dan perspektif gender karena tidak mengalami konflik batin dalam tubuhnya,” tutur Prof. Irwanto, Ph.D
Hal tersebut terjadi karena gaya hidup dan ekspresi yang dianggap tidak memenuhi norma-norma perilaku yang diterima secara sosial dan religius menjadi tantangan kelompok subyek, termasuk pencitraan buruk yang mengundang kebencian masyarakat.
“Yang diperlukan oleh semua orang, apakah Anda putih, hitam, keriting, mancung, pesek, dan sebagainya, adalah kesempatan yang sama. Kesempatan untuk menjadi manusia yang sama. Oleh karena itu mereka menjadi bagian yang harus memberikan kesempatan itu tanpa memikirkan yang lain,” tambahnya.
Menurut Kevin Suhardjo, S.Psi, gaya hidup berisiko dan tersembunyi akibat stigmatisasi dan diskriminasi menjadi hal merugikan bagi anggota komunitas itu sendiri dan akan berdampak serius pada kepentingan publik.
“Penghapusan stigma dan diskriminasi menjadi persoalan penting untuk mengurangi resiko penularan infeksi HIV & AIDS serta memberikan kesempatan bagi komunitas LGBT dalam keragaman manusia dan menikmati hak-hak dasarnya,” paparnya.
Fenomena Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) bukan masalah baru dan lokal dimana fenomena ini menjadi gaya hidup yang diglorifikasikan maupun dibenci dan dihakimi.
Prevalensi infeksi HIV dikalangan Waria dan Gay menunjukkan angka yang cukup besar yaitu 22% untuk kaum Waria dan 8 % untuk kaum Gay sehingga menyebabkan kaum Transgender dan Gay mendapat sorotan lebih banyak dan tajam dari masyarakat.
Sejak tahun 1990, jumlah kasus infeksi baru pada kaum LGB T tidak pernah menurun karena ekspresi seksual yang terbuka, terutama kaum Waria. Penelitian United Nations Population Fund (UNFPA) dan United Nations Development Programme (UNDP) di empat negara (Indonesia, Myanmar, Nepal dan Sri Lanka) menunjukkan kaum ini mengalami kekerasan bertubi-tubi hingga terperangkap dalam lingkaran kekerasan karena tidak adanya jaminan bertahan hidup dari pekerjaan lain.
Penelitian yang merupakan lanjutan dari penelitian UNFPA & UNDP ini lebih mengarahkan analisis proses belajar transformatif dari Mezirow (1996) yang menjelaskan pemaknaan terutama peristiwa traumatik terhadap kekerasan serta cara berpikir dan cara melihat “dunia dan hidupnya” yang membentuk diri kaum LGBT saat ini.
Teori Ekologi Perkembangan Manusia dari Urie Broffenbrenner (1979) sebagai dasar proses kontektualisasi peristiwa-peristiwa yang dialami subyek digunakan untuk membantu menentukan lokus / subsistem terjadinya peristiwa transformatif yang signifikan dan siapa saja aktor / elemen yang terlibat.
Prof. Irwanto, Ph.D. adalah Guru Besar dan Ketua Prodi S3 Psikologi Unika Atma Jaya. Prof. Ir mengembangkan karir sebagai peneliti sejak tahun 1983 di Unika Atma Jaya. Beliau merupakan peneliti senior untuk masalah HIV dan AIDS, khususnya yang berhubungan dengan Narkotika.
Dia sangat aktif memperjuangkan hak-hak dasar komunitas yang marjinal, terutama komunitas kunci dalam epidemi HIV dan AIDS di Indonesia. Prof. Ir merupakan salah satu saksi ahli dalam sidang-sidang di Mahkamah konstitusi yang menjelaskan mengenai LGBT dalam kaitannya dengan perluasan pasal-pasal zinah. Sampai hari ini masih mengadvokasi komunitas yang sering mengalami persekusi ini.
Kevin Suhardjo S. Psi adalah alumni mahasiswa Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya. Di bawah bimbingan Prof. Irwanto, Ph.D. dia menuliskan skripsi mengenai dinamika perubahan pekerja seks waria dan gay di Jakarta yang kemudian dibukukan.Saat ini Kevin bekerja di suatu perusahaan sebagai "generalist" tetapi masih aktif mendampingi komunitas gay dan waria di belakang layar.