INDUSTRY.co.id -
Pergerakan pasar saham Asia cenderung variatif seiring respon negatif pelaku pasar terhadap masih berlanjutnya penurunan sejumlah harga komoditas. Saham-saham energi pun kembali melorot dan menekan sejumlah indeks saham Asia.
"Di sisi lain, masih adanya kekhawatiran terhadap pertemuan G-20 Summit dimana akan mempertemukan Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping yang dinilai tidak akan menemui kesepakatan dagang di antara keduanya membuat pelaku pasar mengantisipasi hal tersebut dengan kembali melakukan posisi jual," ujar analis Pasar Modal Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (27/11/2018).
Menurutnya, meski dihantui dengan imbas pelemahan sejumlah harga komoditas global di pekan sebelumnya namun, tampaknya pelaku pasar cenderung memilih sentimen lainnya untuk mendorong penguatan sejumlah indeks saham Eropa. Adanya sentimen dari tercapainya kesepakatan terkait Brexit antara Inggris dan Uni Eropa yang dibarengi dengan komitmen pemerintah Italia yang akan membenahi anggarannya di 2019 direspon positif pelaku pasar.
Katanya, indeks pan-European Stoxx kembali menguat dengan kenaikan 1,27 persen. Saham-saham perbankan masih melanjutkan kenaikan diikuti dengan saham-saham otomotif, dan asuransi. Di sisi lain, sejumlah saham-saham energi sempat melemah namun, mampu berbalik naik seiring mulai _rebound_ nya harga minyak mentah dunia.
Pergerakan sejumlah indeks saham AS mampu berbalik menguat setelah didera pelemahan di pekan sebelumnya. Mulai meningkatnya saham-saham teknologi a.l Facebook, Amazon, Apple, Netflix, dan Alphabet mendorong indeks saham Nasdaq menguat dan berimbas pada sejumlah indeks saham AS lainnya yang kembali menghijau. Selain itu, kenaikan saham-saham ritel seiring penilaian akan positifnya hasil penjualan di Black Friday turut mendorong kenaikan indeks saham AS.
"Bahkan _rebound_ nya harga minyak mentah dunia turut menambah sentimen positif pada indeks saham AS," katanya.