INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan kerja sama dalam bidang infrastruktur antara Indonesia dan Jepang terus berjalan semakin kuat, seiring dengan jalinan hubungan 60 tahun antara kedua negara.

"Orang Jepang sangat menghargai komitmen, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan kerjasama. Semuanya sangat terperinci. Mereka juga sangat menghargai hubungan personal, sehingga sangat penting untuk menjaga kepercayaan serta kredibilitas," kata Basuki Hadimuljono dalam rilis PUPR yang diterima di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, kerja sama Indonesia-Jepang khususnya dengan Kementerian PUPR tidak hanya semakin kuat namun juga semakin luas ke sektor lainnya.

Awalnya kerja sama dengan Jepang yang dimulai sejak 1968 lebih banyak pada pembangunan infrastruktur sumber daya air yang difokuskan pada empat bidang, katanya dalam seminar Hubungan Indonesia-Jepang di Kampus UI, Depok, Kamis (22/11).

Keempat bidang tersebut yakni pengembangan dan pengelolaan sumber daya air, pengurangan risiko bencana banjir, pengurangan risiko bencana akibat lahar, dan konservasi pantai.

"Kerjasama dimulai pada pengembangan Daerah Aliran Sungai Brantas, dengan konsep pengembangan irigasi lewat pembangunan Bendungan Sutami (1968-1973) yang dikerjakan secara swakelola di bawah bimbingan tenaga ahli Jepang, sehingga banyak menghasilkan banyak tenaga ahli bendungan pada saat itu," ujar Menteri Basuki.

Kerjasama tersebut juga berkontribusi pada lahirnya Perum Jasa Tirta 1 sebagai badan pengelola DAS Brantas, berdirinya PT. Brantas Abipraya dan PT. Indra Karya sebagai BUMN jasa konstruksi dan konsultansi bidang sumber daya air.

Dalam kerjasama pengembangan DAS Brantas, beberapa bendungan lain dibangun seperti Bendungan Selorejo, Wlingi, Lahor, Wlingi-Wlingi, Bening, Lodoyo, Lengkong, Wonorejo.

Kerjasama pembangunan bendungan dilanjutkan pada Bendungan Wonogiri yang berada di DAS Bengawan Solo, Bendungan Bili-Bili di DAS Jeneberang, dan Bendungan Batutegi di DAS Way Sekampung.

Dalam upaya pengurangan risiko banjir, kerjasama Indonesia-Jepang dilakukan pada proyek rehabilitasi Sungai sejak tahun 1971 seperti di Sungai Ular Kota Medan (1971-2012), Sungai Krueng Kota Banda Aceh (1972-2007), Sungai Kuranji Kota Padang (1982-2016), Sungai Ciliwung dan Cisadane Jabodetabek (1994-2014), Sungai Citarum Bandung (1987-2019), Sungai Bolango Kota Gorontalo (2011-2018), dan Sungai Tondano Kota Manado (2011-2018).

Dalam pengendalian banjir lahar, kedua negara bekerjasama dalam pembangunan Sabo Dam dan pelatihan kepada insinyur Indonesia menjadi ahli Sabo.

"Saat ini teknologi infrastruktur Sabo Dam di Indonesia menjadi terbaik kedua setelah Jepang. Hingga kini sudah dibangun 646 bangunan Sabo Dam di Indonesia diantaranya 250 buah di lereng Gunung Merapi, dan 92 buah di lereng Gunung Agung," paparnya.

Melalui kerjasama tersebut, Indonesia telah memiliki banyak ahli Sabo dan telah dibentuk Sabo Technical Center di Yogyakarta sebagai pusat riset dan pengembangan teknologi Sabo untuk melatih tenaga ahli Sabo di Asia Pasifik.

Kerja sama lainnya yakni pembangunan konservasi pantai di kawasan Pantai Bali pada tahun 1988-2012 yang dilanjutkan Bali Beach Conservation Project tahap kedua.