Akademisi Sebut Produksi bukan Variabel Tunggal dalam Kenaikan Harga Beras

Oleh : Wiyanto | Senin, 19 November 2018 - 11:02 WIB

Beras (Foto/Rizki Meirino)
Beras (Foto/Rizki Meirino)

INDUSTRY.co.id -

Jakarta - Harga beras yang diberitakan mengalami kenaikan belakangan ini turut mendapat sorotan dari pakar ekonomi pertanian Luthfi Fatah.

Harga beras yang tinggi di pasar sesungguhnya tidah selalu berkorelasi dengan kekurangan dalam tingkat produksi padi. Bisa jadi penyebabnya adalah pergerakan beras akibat perdagangan, yang membuat stok menjadi langka, terang Luthfi saat dihubungi via telepon, Senin (19/11).

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin tersebut, kenaikan harga beras ini bisa terjadi kesengajaan pihak-pihak tertentu atau sesuatu yang alami. Mungkin ada yang bermain ingin mengeruk keuntungan besar ataupun bisa juga terkait dengan distribusi atau pergerakan produk lintas wilayah yang berlangsung alami, jelasnya.

Apapun keadaannya, Luthfi menilai kondisi harga beras bukan lagi ranah pihak yang berwenang di produksi. Seharusnya ini menjadi kewenangan otoritas perdagangan, tandas pakar kelahiran Kalimantan Selatan ini.

Karena itu, Luthfi menilai bahwa jumlah stok perlu diamati dari waktu ke waktu, serta perlu diteliti pergerakan atau distribusi beras antar provinsi dan kabupaten/kota. Jadi untuk memperhitungkan stok beras, tidak cukup hanya gunakan data produksi beras. Ada variabel waktu dan variabel pergerakan produk, jelas Luthfi.

Untuk mengamankan stok beras saat ini, Luthfi menyebutkan bahwa pilihan yang paling masuk akal adalah pemerintah menggalang semua kekuatan untuk menyerap hasil produksi petani. Dana impor lebih baik dialihkan untuk membeli produksi padi petani, paling tidak pada tingkat harga yang setara dengan yang ditawarkan tengkulak atau bahkan lebih tinggi lagi, ungkapnya.

Sementara pada kesempatan terpisah, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau Ujang Paman Ismail menganggap bahwa pemerintah perlu meluruskan kepada publik untuk setiap keputusan impor yang dikeluarkan. Kalau memang perlu mengambil langkah importasi, tentunya bukan karena petani tidak mampu menyediakan beras bagi penduduk Indonesia. Tapi dalam rangka stabilisasi harga, tegas Ujang.

Ujang menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru telah menyebutkan bahwa Indonesia tahun ini surplus beras sebanyak 2,85 juta ton. Dirinya berharap semua pihak dapat lebih bijak dan berkaca kembali, bahwa disetiap penyusunan program dan kebijakan pembangunan, terutama di sektor pertanian harus berbasis pada data.

Hal ini agar tidak menimbulkan polemik apakah pemerintah masih perlu melakukan impor atau tidak, jelasnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto:Ridwan)

Sabtu, 20 April 2019 - 12:05 WIB

Usai Pemilu, Menperin Optimis Investasi Industri Kian Agresif

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengaku optimistis akan terjadi peningkatan investasi dan ekspansi di sekkor industri manufaktur seusai penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun…

Fintech (Foto Dok Industry.co.id)

Sabtu, 20 April 2019 - 11:17 WIB

Koku Raih Pendanaan Pra-Seri A Sebesar US$2 Juta Dari Co-Founder Tencent

Pendanaan Pra-Seri A ini dipimpin oleh Jason Zeng, Co-founder Tencent Holdings dan pendiri perusahaan angel investment asal China, Decent Capital.

Perkebunan kelapa

Sabtu, 20 April 2019 - 11:05 WIB

Kemenperin Pastikan Bisnis Industri Olahan Kelapa di Indonesia Masih Sangat Prospektif

Bisnis industri pengolahan kelapa di Indonesia masih prospektif dan terus berkembang di beberapa wilayah seperti Riau, Sulawesi Utara, Gorontalo, Jambi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan…

Oppo F11 Pro (Hariyanto/INDUSTRY.co.id)

Sabtu, 20 April 2019 - 10:59 WIB

Masa Pre-order Selesai, Smartphone Oppo F11 Sudah Tersedia di Pasar Indonesia

Perangkat Oppo F11 menjadi favorit karena kemampuan kamera belakangnya untuk mengambil foto portrait memukau dalam gelap, memori besar, pengisian daya cepat, serta harganya yang cukup terjangkau,…

Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI

Sabtu, 20 April 2019 - 10:32 WIB

Peringati Harkonas, YLKI Minta Pemerintah Serius Lindungi Konsumen

Setiap 20 April, diperingati sebagai Hari Konsumen Nasional, atau Harkonas yang tak bisa dilepaskan dari UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). Pasalnya Harkonas mengacu pada…