INDUSTRY.co.id -

Jakarta - Di pertengahan pekan ini, badai aksi jual pun belum juga usai dimana terlihat dari pergerakan sejumlah indeks saham Asia yang kembali melanjutkan pelemahannya. Pergerakan sejumlah indeks saham Tiongkok yang kembali turun, kecuali Shanghai Composite, setelah berada di zona hijaunya memicu penurunan pada mayoritas indeks saham Asia lainnya.

"Masih adanya sentimen global yang membuat pelaku pasar khawatir membuat aksi jual kembali terjadi sehingga menekan sejumlah indeks saham Asia," kata analis Pasar Modal Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (25/10/2018).

Ia bilang, pergerakan bursa saham Eropa mulai mengalami kenaikan tidak terimbas pelemahan pada bursa saham Asia. Adanya sejumlah rilis kinerja emiten yang dianggap baik membuat pelaku pasar memanfaatkan pelemahan sebelumnya untuk kembali masuk. Saham-saham ritel terlihat memimpin kenaikan yang dipicu dirilisnya kinerja dari emiten Kering, asal Perancis, yang merilis kenaikan pendapatannya. Begitupun dengan sejumlah saham-saham ritel lainnya. Meski saham-saham perbankan Jerman mengalami penurunan namun, tidak menghalangi laju bursa saham Eropa bergerak di zona hijau.

Silang pendapat antara Presiden Trump dan Gubernur The Fed terkait rencana kenaikan suku bunga terhadap berbagai upaya pemerintahan untuk membuat ekonomi AS bertumbuh hingga adanya tuduhan Presiden Trump terhadap The Fed yang dapat mengganggu rencana pemerintah membuat laju bursa saham AS cenderung melemah. Di sisi lain, adanya peningkatan kinerja dari Boeing tidak cukup membantu laju bursa saham AS berbalik menguat karena diimbangi dengan pelemahan pada saham-saham teknologi dan perbankan seiring perkiraan kinerjanya dapat terganggu terutama dengan imbas kenaikan suku bunga acuan.

"Di sisi lain, sentimen global juga turut memicu aksi jual a.l masalah anggaran di Italia yang membuat penilaian negara-negara Eropa lainnya dapat menghadapi masalah yang sama dengan Italia hingga perkiraan akan terganggunya harga minyak mentah dunia seiring dengan masih berlangsungnya proses investigasi terbunuhnya jurnalis Arab Saudi yang dapat memicu ketegangan kawasan," katanya.