INDUSTRY.co.id -
Jakarta - Pelemahan bursa saham Asia berimbas negatif pada pergerakan bursa saham Asia dimana cenderung variatif melemah. Kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan antara AS dan Arab Saudi setelah adanya berita tewas dan hilangnya salah satu jurnalis Arab Saudi membuat pelaku pasar cenderung menahan diri.
"Di sisi lain, adanya rilis kenaikan inflasi konsumer Tiongkok tidak direspon positif karena diimbangi dengan cenderung rendahnya inflasi produsen sehingga memberikan penilaian adanya dampak negatif dari perang dagang AS dan Tiongkok," ujar analis Pasar Modal Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (17/10/2018).
ASX mampu bertahan positif seiring adanya aksi beli kembali saham-saham perbankan yang melemah. Sebelumnya, Lembaga-lembaga keuangan terbesar Australia telah menjadi sorotan setelah sebuah penyelidikan mengungkap kesalahan besar-besaran di seluruh sektor.
Penguatan kembali terjadi pada sejumlah indeks saham Eropa meski pelaku pasar masih mencermati perkembangan terbaru dari potensi ketegangan antara AS dan Arab Saudi menyusul adanya pemberitaan tewas dan hilangnya jurnalis Arab Saudi. Indeks pan-European Stoxx600 kembali bergerak naik seiring dukungan berita positif dari sejumlah emitennya. Di sisi lain, adanya perkiraan membaiknya kinerja emiten di kuartal ketiga memberikan dorongan bagi penguatan sejumlah indeks saham Eropa, terkecuali FTSE yang melemah karena terimbas kenaikan GBP.
Pasca melemah, laju sejumlah indeks saham AS menguat dengan adanya sentimen positif dari rilis kinerja sejumlah emiten. Saham-saham teknologi yang sebelumnya banyak terkena aksi jual, kini kembali diburu. Selain itu, juga saham-saham perawatan kesehatan hingga manufaktur yang kembali dilakukan aksi beli. Adalah emiten Johnson & Johnson dan UnitedHealth membukukan kinerja jauh di atas estimasi sehingga membuat harga sahamnya melonjak dan berimbas pada pergerakan saham lainnya. Adanya perkiraan kenaikan kinerja emiten-emiten dalam indeks S&P500; sebanyak 19 persen turut menambah sentimen positif.