INDUSTRY.co.id -
Jakarta - Tingginya harga minyak juga memperbesar masalah di pasar berkembang termasuk Indonesia. Harga minyak Brent mendekati $80 per barel sehingga konsumsi diperkirakan akan sangat terpengaruh dalam beberapa bulan mendatang, jadi permintaan global akan mulai sangat melambat.
Karena itu, harga minyak saat ini sepertinya tidak dapat dipertahankan bahkan jika ekspor Iran turun 1 juta barel pada bulan November.
"Saya rasa demi kepentingan semua orang sebaiknya harga minyak kembali ke rentang $60-$70 guna mencegah penyebaran krisis di pasar berkembang," ujar Hussein Sayed, Chief Market Strategist FXTM di Jakarta, Rabu (5/9/2018).
Ia katakan, saham Asia bervariasi pada hari Selasa di saat pasar Amerika Serikat tutup pada hari Senin dan investor terus memperhitungkan eskalasi ketegangan dagang antara AS dan China lebih lanjut. Saat tarif umum untuk baja dan aluminium pertama kali diberlakukan pada bulan Maret, pasar memandangnya sebagai perang dingin yang akan segera teratasi dengan beberapakalinegosiasi. Setelah enam bulan,ternyatamasih belum ada pertanda bahwa perang dagang ini akan segera berakhir. Pasar kini memperkirakan bahwa AS akan memberlakukan tarif tambahan terhadap $200 miliar impor China dalam waktu dekat, bahkan bisa jadi pada hari Kamis saat konsultasi publik berakhir. Hal ini bukan hanya akan merugikan bagi dua ekonomi terbesar dunia, namun juga sangat mengganggu rantai pasokan global, terutama untuk berbagai negara di pasar berkembang yang mata uangnya dapat semakin terperosok di beberapa pekan mendatang.
Menurut dia, trader FX berfokus pada Peso Argentina dan Lira Turki yang terjun bebas dan kehilangan sekitar separuh dari nilainya pada tahun ini. Walau demikian, perlu diperhatikan pula bahwa Rupiah merosot ke level terendah sejak krisis keuangan Asia 1998, Rupee India dan Sri Lanka anjlok ke rekor level terendah, dan banyak mata uang pasar berkembang lainnya yang terus terpukul tahun ini dan memaksa bank sentral masing-masing negara untuk bertindak.
Ketegangan dagang bukan satu-satunya faktor yang menekan nilai tukar mata uang pasar berkembang terhadap rupiah. Ini adalah akhir dari pelonggaran kuantitatif dan satu dekade suku bunga mendekati nol yang melanda pasar berkembang, dan situasi akan semakin memburuk apabila Federal Reserve tidak memperlambat laju pengetatan kebijakan moneternya. Mata uang yang lebih lemah akan membuat utang berdenominasi Dolar lebih sulit dibayar, perusahaan terpaksa memangkas rencana ekspansi, konsumen memperlambat konsumsi, dan risiko gagal bayar semakin meningkat.
"Satu-satunya reaksi yang dapat dilakukan pemerintah adalah menerapkan tindakan penghematan dan meningkatkan suku bunga, dan ini akan memperburuk perlambatan ekonomi," katanya.