INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih bisa berkembang meski sebagian besar bahan baku industri tersebut adalah impor.

Advertisement

Di sisi lain banyak tantangan dalam penerapan industri 4.0 dimana konektivitas manusia, mesin dan data menjadi yang utama.

"Impor untuk garmen itu tidak apa-apa, asal itu bahan baku yang digunakan untuk produksi bahan jadi yang memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor," kata Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Kementerian Perindustrian Muhdori di Jakarta, Senin (3/9/2018).

Advertisement

Ditambahkan Muhdori, dari keseluruhan impor bahan baku kain, 30 persen untuk memenuhi kebutuhan pakaian jadi dalam negeri, sedangkan ekspor 70 persen.

"Hal ini menunjukan industri tekstil garmen masih memiliki peluang besar," ungkapnya.

Advertisement

Lebih lanjut Muhdori mengatakan, tantangan industri tekstil dalam penerapan industri 4.0 yaitu bahan baku dan komponen kunci tergantung impor.

Menurutnya, saat ini zona industri belum komprehensif, infrastruktur digital yang belum memadai dan platform digital yang belum optimal.

Advertisement

Selain itu, tantangan proses produksi dan ekspor dituntut ramah lingkungan, industri kecil dan menengah yang masih tertinggal, pendanaan domestik dan teknologi yang terbatas.

"Terbatasnya pusat inovasi, belum ada Litbang yang kuat yang disponsori pemerintah atau swasta juga menjadi tantangan industri TPT dalam penerapan industri 4.0," tutur Muhdori.