INDUSTRY.co.id - Jakarta – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Malaysia pada perdagangan Senin (06/08/2018) dibuka sebesar RM2.209 per ton, lebih tinggi 0,59% dibandingkan penutupan pada akhir pekan lalu di posisi RM2.196 per ton.
Hingga akhir sesi pertama perdagangan hari ini, harga CPO Malaysia bergerak di kisaran RM2.202-2.215 per ton dibandingkan kisaran harga komoditas sawit tersebut pada akhir pekan lalu pada RM2.179-2.198 per ton.
“Berdasarkan data tersebut, maka terlihat bahwa harga CPO Malaysia melemah sebelum akhirnya ditutup menguat pada akhir pekan lalu. Kondisi itu diperkirakan bakal berlanjut pada pekan ini,” ujar Arie Nurhadi, analis riset PT Monex Investindo Futures, di Jakarta, Senin (06/08/2018).
Arie menjelaskan, sentimen negatif pada perdagangan pekan ini tampaknya akan muncul akibat kecemasan pelaku pasar terhadap perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina.
Pada akhir pekan lalu, demikian Arie, harga kontrak penjualan CPO untuk pengiriman Oktober 2018 di Malaysia Derivatives Exchange naik 0,2% menjadi RM2.196 atau setara dengan US$538,24 per ton. Secara keseluruhan, sepanjang pekan lalu, harga CPO Malaysia naik 0,5%.
Sementara itu, menurut Arie, harga kontrak penjualan CPO Malaysia untuk pengiriman Oktober 2018 pada siang ini tercatat naik 0,8% menjadi RM2.214 atau setara US$543,31 per ton. Sebelumnya, harga jual tersebut telah naik 0,9% menjadi RM2.215 per ton.
“Minimnya fundamental pasar yang bergerak positif, serta adanya penguatan pada mata uang Ringgit Malaysia cenderung akan membatasi pergerakan dari harga CPO,” imbuh Arie.
Pada Kamis pekan lalu, Cina menyampaikan bahwa negeri tirai bambu itu akan membalas jika AS menaikkan tarif impor barang dari berbagai negara Asia lainnya. Pasalnya, jika rencana AS itu terwujud, maka perang dagang AS-Cina akan terus meningkat.
Bahkan sebelumnya, Presiden Amerika Donald Trump telah menginstruksikan agar para pejabat perdagangan AS untuk melihat peningkatan tarif hingga 25% dari awalnya sebesar 10% bagi berbagai barang impor dari Cina bernilai total US$200 miliar. (Abraham Sihombing)