INDUSTRY.co.id Jakarta - Mulai adanya aksi jual seiring imbas pergerakan obligas AS yang mengalami kenaikan imbal hasil dikhawatirkan dapat membuat laju pasar obligasi dalam negeri kembali mengalami pelemahan. Diharapkan Rupiah dapat bergerak positif untuk menahan pelemahan yang terjadi.
"Tetap cermati dan waspadai terhadap potensi pelemahan kembali jika sentimen positif yang ada kurang kuat mendukung bertahannya pasar obligasi di zona hijau," ujar analis Pasar Modal Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (31/7/2018).
Ia bilang meski pergerakan Rupiah bergerak positif namun, tidak berimbas banyak pada pergerakan pasar obligasi dalam negeri. Jelang akhir bulan dimana biasanya akan dirilis data-data ekonomi baik dari dalam negeri maupun global membuat pelaku pasar cenderung menahan diri untuk masuk dan bahkan tidak jarang melakukan aksi jual untuk antisipasi rilis data-data ekonomi tersebut. Adapun untuk pergerakan masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) imbal hasilnya rata-rata naik 3,78 bps; tenor menengah (5-7 tahun) turun 2,48 bps; dan panjang (8-30 tahun) naik 0,55 bps.
Laju pasar obligasi cenderung kembali bergerak variatif turun dengan mulai adanya aksi jual. Pada FR0063 yang memiliki waktu jatuh tempo ±5 tahun dengan harga 92,28% memiliki imbal hasil 7,57% atau turun 0,001 bps dari sebelumnya di harga 92,25% memiliki imbal hasil 7,58%. Untuk FR0075 yang memiliki waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 94,00% memiliki imbal hasil 8,11% atau turun 0,04 bps dari sehari sebelumnya di harga 93,65% memiliki imbal hasil 8,15%.
Pada Senin (30/7), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price turun 0,06 bps di level 109,81 dari sebelumnya di level 109,87. Adapun, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun 0,0014 bps di level 105,111 dari sebelumnya di level 105,11. Sementara itu, pergerakan imbal hasil SUN 10Yr berada di level 7,703% dari sebelumnya di level 7,70% dan US Govn’t bond 10Yr di level 2,99% dari sebelumnya di level 2,96% sehingga spread di level kisaran 471,4 bps lebih rendah dari sebelumnya 474 bps.
Sementara pada laju imbal hasil obligasi korporasi, pergerakannya berbalik variatif naik. Pada obligasi korporasi dengan rating AAA dimana imbal hasil untuk tenor 9-10 bergerak naik di kisaran level 9,70%-9,80%. Pada rating AA dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 10,15%-10,20%. Pada rating A dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 11,25%-11,40%, dan pada rating BBB di kisaran 13,99%-14,03%.