INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kendati saat ini sedang bergerak positif, pasar obligasi domestik diminta untuk tetap mencermati kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) seiring terjadinya kesepakatan dagang antara AS dengan Uni Eropa.

“Kesepakatan dagang antara AS dengan Uni Eropa tersebut berpotensi mendorong peningkatan imbal hasil obligasi AS. Sementara itu, penguatan kurs rupiah yang terjadi sekarang ini masih menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi domestik,” ujar Reza Priyambada, analis pasar modal AAEI (Asosiasi Analis Efek Indonesia), di Jakarta, Kamis (26/07/2018).

Reza mengemukakan, kendati apresiasi rupiah dapat memberikan dampak positif bagi pasar obligasi domestik, akan tetapi aksi beli terhadap obligasi domestik masih terbatas. Itu karena imbal hasil obligasi AS dinilai berpotensi meningkat pasca pertemuan pemerintah AS dengan Uni Eropa dalam tahap pembahasan tarif perdagangan di antara kedua belah pihak.

Menurut Reza, imbal hasil obligasi domestik berjangka pendek (1-4 tahun) rata-rata mengalami penurunan 16,41 basis points (bps), berjangka menengah (5-7 tahun) turun 0,24 bps dan berjangka panjang (8-30 tahun) naik 1,55 bps.

FR0063 yang berjangka waktu 5 tahun dengan harga 92,23% memiliki imbal hasil 7,58% turun 0,08 bps dibandingkan sebelumnya seharga 91,91% dengan imbal hasil 7,66%.

FR0075 dengan jangka waktu 20 tahun seharga 93,64% memiliki imbal hasil 8,15% turun 0,04 bps dibandingkan sehari sebelumnya pada harga 93,25% dengan imbal hasil 8,19%.

Rata-rata harga obligasi pemerintah RI yang tercantum di INDOBex Government Clean Price kemarin meningkat 0,23 bps ke level 109,77 dibandingkan sebelumnya di level 109,52. Adapun, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun 0,23 bps di level 105,19 dari sebelumnya di level 104,95.

Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) berjangka 10 tahun mencapai 7,75% dibandingkan sebelumnya 7,81%. Adapun imbal hasil SUN pemerintah AS yang bernama US Govt bond yang juga berjangka 10 tahun mencapai 2,98% dari sebelumnya 2,97%.

“Akibatnya, spread kedua surat utang pemerintah tersebut menjadi 477,1 bps atau lebih rendah dibandingkan sebelumnya sebesar 484,1 bps,” jelas Reza.

Sementara itu, imbal hasil obligasi korporasi berjangka waktu 9-10 tahun mengalami kenaikan tipis. Imbal hasil obligasi berperingkat AAA naik ke kisaran 9,65%-9,75%. Untuk peringkat AA pada kisaran 10,14%-10,18%. Sementara itu, untuk peringkat A di kisaran 11,23%-11,44% dan peringkat BBB pada kisaran 13,98%- 14,02%. (Abraham Sihombing)