INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpadu di DKI Jakarta atau Jakarta Sewerage System (JSS) pada zona 1 di Pluit telah memasuki tahap pengadaan konsultan, dan diperkirakan akan ditetapkan konsultannya pada minggu ke-3 Februari 2017.
Proyek JJS ini akan ditangani oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA).
JSS diproyeksikan akan melayani pengelolaan air limbah seluruh Jakarta yang terbagi dalam 14 zona berdasarkan kondisi geografis.
Pembangunan diprioritaskan pada zona 1 yang mencakup daerah Pluit dan kemudian akan dilanjutkan pada zona-zona lainnya.
"Saat ini sedang negosiasi untuk penunjukkan konsultan, saya minta dalam satu minggu ke depan sudah dapat diputuskan pelaksananya" terang Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono lewat siaran persnya usai bertemu perwakilan JICA di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta(3/2/2017).
Pada tahun 2011, JICA telah melakukan studi yang merekomendasikan pengembangan sistem air limbah yang terbagi ke dalam 14 zona.
"Khusus untuk yang dikerjakan oleh Kementerian PUPR yaitu di zona 1 (Pluit) dan zona 6 (Duri Kosambi), sementara yang lainnya akan dikerjakan oleh Pemda DKI" tambahnya.
Estimasi kebutuhan dana diperkirakan sebesar Rp69,6 triliun untuk total 14 zona.
Khusus zona 1 Luas JSS yang akan dibangun mencapai 4.901 Hektar dengan kapasitas 198,000 m3/hari. Perkiraan biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 8,1 Triliun.
Dengan pembangunan pengelolaan air limbah pada zona 1 tersebut, maka pengelolaan limbah di Jakarta diperkirakan akan bertambah menjadi 20 persen dari sebelumnya hanya 2,38 persen.
Sedangkan untuk zona 6 yang mencakup wilayah Duri Kosambi, luas JSS yang akan dibangun adalah 5.875 Hektar dengan kapasitas 282.000 m3/hari, dengan perkiraan biaya mencapai Rp 8.7 Triliun.