INDUSTRY.co.id - Jakarta - Bank Indonesia mengakui inflasi kelompok barang dengan harga bergejolak (volatile food) di sembilan propinsi masih sangat tinggi hingga Mei 2018, karena melebihi sasaran Bank Sentral sebesar lima persen.

Advertisement

Dari sembilan propinsi itu, Sumatera Utara mencatatkan inflasi "volatile food" yang tertinggi hingga mencapai 10,68 persen, kemudian Banten mencapai 6,42 persen, Sumatera Selatan 6,22 persen, Yogyakarta 5,99 persen, Aceh 5,58 persen, Sulawesi Selatan 5,79 persen, Nusa Tenggara Barat 5,56 persen, Jawa Tengah 5,29 persen, Lampung 5,2 persen.

"Memang ada beberapa daerah yang di atas lima persen. Tapi hanya beberapa daerah saja. Secara nasional masih terjaga," kata Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Reza Anglingkusumo di Jakarta, Selasa (5/6/2018)

Advertisement

BI memang menargetkan inflasi "volatile food" tidak melebihi lima persen atau di rentang 4-5 persen. Maka dari itu, inflasi "volatile food" di sembilan propinsi yang sudah melebihi lima persen itu menjadi "pekerjaan rumah" bagi pemerintah dan BI, terutama memasuki tren konsumsi tinggi menjelang Lebaran.

"Faktor penyebab inflasi 'volatile food' yang masih tinggi di daerah itu, salah satunya karena distribusinya. Masing-masing propinsi memiliki karakteristik masalahnya," ujarnya.

Advertisement

Jika secara nasional, inflasi "volatile food" hingga Mei 2018, kata Reza masih terkendali. Inflasi "volatile food" di bulan kelima sebesar 4,33 persen (yoy) atau 0,29 persen (mtm). Inflasi nasional untuk "volatile food" yang terjaga ini, kata Reza, karena terkendalinya harga cabai merah, bawang putih, beras dan cabai rawit.

Bahkan inflasi "volatile food" pada Mei 2018 menjadi inflasi "volatile food" yang terendah dalam rata-rata empat tahun terakhir momentum Ramadhan sebesar 1,59 persen (mtm).

Advertisement

Untuk Juni 2018, atau periode Lebaran kedua, Reza meyakini secara nasional inflasi "volatile food" masih akan terjaga. Tekanan inflasi akan lebih bersumber dari tarif yang diatur pemerintah seperti tarif transportasi (pesawat, kereta api) menjelang arus mudik dan balik di Lebaran 2018.

"Misalnya dari segi harga beras saja. Juni 2018 masih di bawah rata-rata historis karena pasokan yang tersedia jadi masih terjaga dan terkendali," ujar dia. (Ant)