INDUSTRY.co.id - Jakarta-Kenaikan lanjutan obligasi masih dimungkinkan terjadi seiring masih adanya sejumlah sentimen positif dari dalam negeri. Diharapkan kondisi ini tidak dimanfaatkan pelaku pasar untuk aksi ambil untung yang dapat menahan potensi kenaikan pada pasar obligasi.

"Meski terdapat peluang kenaikan namun, tetap cermati dan waspadai jika masih adanya berbagai sentimen yang dapat membuat laju pasar obligasi kembali melemah," ujar analis Binaartha Institutional Research Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (5/6/2018).


Ia katakan, laju Rupiah yang kembali terapresiasi seiring dengan meningkatnya indeks manufaktur PMI Indonesia memberikan sentimen positif pada pada pergerakan sejumlah seri obligasi. Pelaku pasar memanfaatkan kondisi tersebut untuk kembali masuk dan selektif terhadap sejumlah seri obligasi.

Adapun untuk pergerakan masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) imbal hasilnya rata-rata turun 24,54 bps; tenor menengah (5-7 tahun) turun 10,60 bps; dan panjang (8-30 tahun) turun 3,36 bps.

Laju pasar obligasi cenderung bergerak naik seiring masih bertahannya aksi beli dan imbas penguatan Rupiah. Akan tetapi, sejumlah seri acuan mengalami _profit taking_ sehingga cenderung melemah. Pada FR0063 yang memiliki waktu jatuh tempo ±5 tahun dengan harga 95,44% memiliki imbal hasil 6,72% atau naik 0,03 bps dari sebelumnya di harga 95,56% memiliki imbal hasil 6,69%.

Untuk FR0075 yang memiliki waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 99,85% memiliki imbal hasil 7,51% atau turun 0,15 bps dari sehari sebelumnya di harga 99,70% memiliki imbal hasil 7,53%.

Pada Senin (4/6), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price naik 0,14 bps di level 114,60 dari sebelumnya di level 114,44. Sementara itu, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price naik 0,51 bps di level 107,57 dari sebelumnya di level 107,02.