INDUSTRY.co.id - Jakarta-Permintaan imbal hasil yang lebih tinggi pada pasar obligasi AS seiring dengan langkah antisipasi pasar terhadap sikap AS terkait kesepakatan nuklir dengan Iran dapat menghalangi potensi kenaikan pada pasar obligasi dalam negeri.

Analis Binaartha Institutional Research mengatakan, dengan Rupiah yang masih melemah kian menambah sentimen negatif. Diharapkan aksi jual dalam menanggapi pelemahan Rupiah dan berbagai sentimen tersebut dapat berkurang untuk mencegah pasar obligasi turun lebih dalam.

"Untuk itu, cermati dan waspadai jika masih adanya berbagai sentimen yang dapat membuat laju pasar obligasi kembali melemah," kata dia di Jakarta, Rabu (9/5/2018).

Ia katakan, tidak jauh berbeda dengan sebelumnya dimana kembali melemahnya Rupiah memberikan imbas negatif pada pergerakan pasar obligasi. Pergerakan sejumlah imbal hasil AS yang diperkirakan dapat menguat seiring kenaikan USD dapat berimbas pada laju pasar obligasi di dalam negeri. Adapun untuk pergerakan masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) imbal hasilnya rata-rata naik 21,63 bps; tenor menengah (5-7 tahun) naik 15,75 bps; dan panjang (8-30 tahun) naik 12,58 bps.

Laju pasar obligasi cenderung melemah. Pada FR0063 yang memiliki waktu jatuh tempo ±10 tahun dengan harga 95,18% memiliki imbal hasil 6,77% atau naik 0,16 bps dari sebelumnya di harga 95,82% memiliki imbal hasil 6,62%. Untuk FR0075 yang memiliki waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 97,36% memiliki imbal hasil 7,76% atau naik 0,17 bps dari sehari sebelumnya di harga 99,09% memiliki imbal hasil 7,59%.

Pada Selasa (9/5), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price turun -0,91 bps di level 114,34 dari sebelumnya di level 115,39. Sementara itu, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun 0,54 bps di level 107,38 dari sebelumnya di level 107,96. Sementara itu, pergerakan imbal hasil SUN 10Yr berada di level 7,34% dari sebelumnya di level 7,09% dan US Govn’t bond 10Yr di level 2,98% dari sebelumnya di level 2,961% sehingga spread di level kisaran 435,9 bps lebih tinggi dari sebelumnya 412,4 bps.

Sementara pada laju imbal hasil obligasi korporasi, pergerakannya kembali bergerak naik. Pada obligasi korporasi dengan rating AAA dimana imbal hasil untuk tenor 9-10 bergerak naik di kisaran level 8,97%-9,00%.

"Lalu, obligasi korporasi dengan rating AA untuk tenor 9-10 tahun, imbal hasilnya di kisaran level 9,55%-9,67%. Untuk imbal hasil pada rating A dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 10,72%-10,97%, dan pada rating BBB di kisaran 13,05%-13,11%," katanya.