INDUSTRY.co.id - Jakarta-Rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran pada kisaran support 14025 dan resisten 13987. Sentimen dari dalam negeri dianggap belum cukup kuat signidfikan untuk mengangkat Rupiah.
Analis Binaartha Institutional Research Reza Priyambada mengatakan, masih adanya kekhawatiran akan peningkatan inflasi telah mendorong perkiraan akan kenaikan tingkat suku bunga The Fed yang mana akan berimbas pada terapresiasinya USD.
"Untuk itu, diharapkan kepanikan dapat mereda dan sentimen dari dalam negeri dapat lebih positif untuk menarik minat pelaku pasar terhadap Rupiah sehingga pelemahannya dapat lebih tertahan," kata dia di Jakarta, Selasa (8/5/2018).
Pergerakan USD yang masih cenderung menguat memberikan imbas pada pergerakan Rupiah yang kembali melemah di awal pekan ini. Adanya rilis Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia yang mengindikasikan peningkatan pertumbuhan penjualan eceran pada Maret 2018. Hal itu didukung oleh kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau yang tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tumbuh 2,5% (yoy), meningkat dari 1,5% (yoy) pada bulan sebelumnya serta rilis Ekonomi Indonesia di Q1-18 terhadap Q1-17 tumbuh 5,06 persen (YoY) yang meningkat dibanding pencapaian Q1-17 sebesar 5,01 persen tidak cukup kuat mengangkat Rupiah.
Pergerakan USD masih cenderung menguat meski dirilis penambahan kinerja yang di bawah estimasi sebelumnya. Pelaku pasar masih mengkhawatirkan adanya peningkatan inflasi pada ekonomi AS. Bertambahnya lapangan pekerjaan (meski di bawah estimasi) diperkirakan akan mendorong peningkatan sehingga inflasi dapat terjadi. Di sisi lain, perkiraan akan meningkatnya inflasi tentunya akan mendorong The Fed menaikan tingkat suku bunganya.