INDUSTRY.co.id - Jakarta, Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara menyatakan, gas industri di Indonesia lebih banyak diekspor lantaran belum memadainya infrastrukturnya mulai dari terminal penerima hingga jaringan pipa ke konsumen.

Advertisement

"Sekarang masih banyak diekspor karena kontrak jangka panjang. Kedua, karena kita sendiri tidak punya infrastruktur yang memadai untuk menyerapnya," katanya di Jakarta, Rabu (25/1).

Menurut Marwan, pemanfaatan gas di dalam negeri belum ditunjang dengan peta jalan atau roadmap. Ketika harga minyak dunia tinggi timbul ide untuk pemakaian gas yang lebih murah.

Advertisement

"Sebagai contoh gas untuk kendaraan dengan memakai konverter kit. Namun ketika harga minyak melemah seperti sekarang ini, ide-ide pemanfaatan gas itu hilang, kita tidak punya roadmap yang jelas soal penggunaan gas," papar dia.

Sedangkan skema bagi hasil kotor atau gross split yang mulai ditawarkan pemerintah, lanjut Marwan, tidak menarik bagi investor untuk melakukan eksplorasi.

Advertisement

Investor lebih memilih lapangan migas yang sudah eksploitasi karena sudah ada kepastian mengenai cadangan dan tingkat pengembalian investasi.

"Kalau eksplorasi berkurang maka cadangan migas menurun. Gross split sebaiknya dikaji kembali," ujar Marwan. (Hry/ Imq)

Advertisement