INDUSTRY.co.id - Jakarta-Penawaran obligasi Pemerintah kali ini lebih rendah dari sebelumnya serta dengan penyerapan yang juga lebih rendah. Masih adanya perkiraan sejumlah sentimen negatif terutama jelang pertemuan The Fed membuat minat lelang obligasi cenderung kembali mengalami penurunan.

"Ditambah dengan pergerakan Rupiah yang masih melemah membuat pasar obligasi cenderung masih tertahan sehingga berimbas pada minat lelang yang lebih rendah. Di sisi lain, angka imbal hasil cenderung lebih tinggi dari lelang sebelumnya seiring dengan adanya sejumlah risiko pasar," ujar Reza Priyambada, analis Binaartha Institutional Research di Jakarta, Kamis (3/5/2018).

Sebelumnya, Pemerintah telah menyerap dana sebesar Rp1,06 triliun dari lelang tujuh seri Surat berharga syariah negara (SBSN) pada Rabu (2/5) dengan total penawaran yang masuk sebesar Rp 5,53 triliun. Adapun jumlah dana yang diserap tersebut berasal dari seri  Seri SPN-S03112018 (penerbitan baru); Seri PBS016 (penerbitan kembali); Seri PBS002 (penerbitan kembali); Seri PBS017 (penerbitan kembali); Seri PBS012 (penerbitan kembali); Seri PBS004 (penerbitan kembali); dan Seri PBS015 (penerbitan kembali).

Jumlah yang dimenangkan untuk seri SPN-S03112018 (penerbitan baru) mencapai Rp325 miliar dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 4,40 persen dan imbalan secara diskonto. Penawaran masuk untuk seri SBSN yang jatuh tempo pada 3 November 2018 sebesar Rp3,44 triliun dengan imbal hasil terendah yang masuk 4,34 persen dan tertinggi 5,94 persen.

Jumlah dimenangkan untuk seri PBS016 (penerbitan kembali) sebesar Rp250 miliar dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,12 persen dan tingkat imbalan 6,25 persen. Penawaran masuk untuk seri SBSN yang jatuh tempo pada 15 Maret 2020 ini mencapai Rp841 miliar dengan imbal hasil terendah masuk 6,19 persen dan tertinggi 7,03 persen.

Lalu, untuk seri PBS002 (penerbitan kembali) memiliki penawaran yang masuk sebesar Rp685 miliar dengan penyerapan sebesar Rp380 miliar. Seri SBSN yang memiliki tingkat imbalan 5,45 persen ini memiliki imbal hasil rata-rata tertimbang 6,59 persen dimana imbal terendah yang masuk 6,53 persen dan tertinggi 6,97 persen.

Untuk seri PBS017 (penerbitan kembali), memiliki penawaran yang masuk sebesar Rp112 miliar dengan penyerapan sebesar Rp100 miliar. Seri SBSN yang memiliki tingkat imbalan 6,13 persen ini memiliki imbal hasil rata-rata tertimbang 7,20 persen dimana imbal terendah yang masuk 6,97 persen dan tertinggi 7,75 persen.

Untuk seri PBS012 (penerbitan kembali) tidak ada jumlah yang dimenangkan. Adapun penawaran yang masuk sebesar Rp 111 miliar memiliki jatuh tempo pada 15 November 2031 ini. Seri SBSN ini memiliki tingkat imbalan 8,88 persen. Adapun imbal hasil terendah yang masuk 7,50 persen dan tertinggi 7,66 persen.

Untuk seri PBS004 (penerbitan kembali) memiliki penawaran yang masuk sebesar Rp63 miliar namun, tidak ada jumlah yang diserap. Seri SBSN yang memiliki tingkat imbalan 6,10 persen ini memiliki imbal hasil terendah yang masuk 7,78 persen dan tertinggi 7,88 persen.

Untuk seri PBS015 (penerbitan kembali) tidak ada jumlah yang dimenangkan. Adapun tingkat imbalan 8,00 persen. Penawaran masuk untuk seri SUN yang jatuh tempo pada 15 Juli 2047 ini mencapai Rp283 miliar dengan imbal hasil terendah masuk 7,84 persen dan tertinggi 8,25 persen.

Pemerintah pada lelang sebelumnya, telah menyerap dana sebesar Rp6,35 triliun dari lelang tujuh seri Surat berharga syariah negara (SBSN) pada Selasa (17/4) dengan total penawaran yang masuk sebesar Rp 10,19 triliun.