INDUSTRY.co.id - Jakarta- Industri Jerman akan mengambil keuntungan dari setiap peluang perdagangan di Asia dan Amerika Selatan yang ditinggalkan oleh kebijakan proteksionisme Amerika Serikat.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Kanselir Jerman Sigmar Gabriel pada Senin (24/1/2017) setelah Presiden Donald Trump mengundurkan diri dari Kerja Sama Trans-Pacific (TPP).
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Handelsblatt yang terbit pada Selasa, ia mengatakan, "Jika Trump memulai perang dagang dengan Asia dan Amerika Selatan, itu akan membuka peluang bagi kita."
"Trump hanya harus mengakui bahwa ekonomi AS sering tidak kompetitif, sedangkan (ekonomi) Jerman (kompetitif)," katanya, mengkritik ancaman Trump untuk memberlakukan tarif 35 persen pada mobil Jerman yang diimpor dari Meksiko.
Langkah itu, katanya, akan menjadi kontraproduktif bagi Amerika Serikat.
Trump menandatangani perintah eksekutif, yang secara resmi menarik Amerika Serikat dari kerja sama 12 negara TPP, menindaklanjuti janji dari kampanyenya tahun lalu. Dia menyebut langkah itu sebagai "hal yang besar bagi pekerja Amerika".
Gabriel - Menteri Ekonomi dan pemimpin partai tengah-kanan Sosial Demokrat kiri (SPD) seperti dikutip Antara, yang diperkirakan akan menjadi lawan Kanselir Angela Merkel dalam pemilu September - mengatakan industri Jerman harus tetap percaya diri dalam menghadapi pergerakan Trump.
Kurang dari 10 persen dari ekspor Jerman dikirim ke Amerika Serikat, kata Gabriel, sementara 60 persen dikirim ke negara-negara lain di Eropa.
"Kita bisa melihat bobot kepentingan ekonomi kita," kata Gabriel. "Jerman harus bertindak dengan percaya diri dan tidak perlu takut atau bersikap seperti budak. "
Sementara itu dari Jakarta diinformasikan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan Roeslani berpendapat, kebijakan Presiden Donald Trump yang mengeluarkan Amerika Serikat dari Kemitraan Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partnership/TPP), menguntungkan posisi Indonesia dari segi manufaktur.
"Dengan tidak adanya TPP, posisi Indonesia lebih bagus dari segi manufaktur karena tidak mendapatkan saingan dari Vietnam," kata Rosan dalam diskusi "Prospek Ekonomi dan Bisnis 2017" di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa.
Pengesampingan TPP oleh AS, kata dia, merupakan peluang bagi ASEAN untuk kemudian memperkuat perdagangan bebas negara-negara anggotanya yang resprositasnya masih rendah.
"Jangan sampai ada Brexit di ASEAN karena aliansinya berbeda-beda, misalnya Kamboja yang bersekutu ke China. Kita tidak pernah terpikir negara-negara ASEAN akan selalu bersatu, tidak tertutup kemungkinan kita bisa pecah," ucap Rosan.
Menurut dia, salah satu langkah yang dapat diambil untuk mempertahankan kohesivitas ASEAN adalah melalui perdagangan dan investasi.