INDUSTRY.co.id - Jakarta – Salah satu program Nawa Cita yang diusung oleh Presiden Joko Widodo adalah mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, salah satunya adalah infrastruktur.
Dalam laporan United Nation Conference on Terade and Development (UNCTAD) yang bertajuk World Investment Report 2017 menempatkan Indonesia di peringkat 4 sebagai negara tujuan investasi yang paling prospektif periode 2017-2019.
Posisi Indonesia berada di bawah Amerika Serikat, Tiongkok dan India. Dengan posisi tersebut, Indonesia mengalahkan sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Thailand sebagai negara tujuan investasi paling prospektif.
Selama 5 tahun terakhir nilai investasi langsung yang masuk ke Indonesia tercatat terus mengalami peningkatan sekitar 17.2% per tahun dimana pada tahun 2017 kemarin telah dibukukan investasi langsung di Indonesia sebesar Rp 692.8 triliun dan lebih dari Rp 170.3 triliun penambahan investasi asing di Indonesia yang tercatat masuk kedalam obligasi pemerintah pada tahun yang sama.
Melihat kemandirian ekonomi dan infrastruktur merupakan prioritas dan tantangan yang dihadapi Indonesia, Ayers Asia Asset Management (AYERS) mencoba memahami dan menjawab tantangan ini. AYERS adalah perseroan terbatas yang bergerak dan berlisensi untuk menyediakan layanan manajemen investasi.
Mengusung slogan local power global reach, AYERS bertujuan untuk menghasilkan produk investasi yang komprehensif yang didedikasikan untuk pasar lokal dan global dengan tingkat pengembalian yang optimal dan dikelola secara profesional berdasarkan standar peraturan yang berlaku.
Presiden Direktur Ayers Asia Asset Management, Dastin M. Mudjiana menuturkan AYERS membuat dunia layanan keuangan yang kompleks menjadi jelas, sederhana, dan disesuaikan untuk para klien, AYERS memberikan solusi manajemen investasi kepada beragam basis klien, yang meliputi lembaga pemerintah, lembaga, perusahaan, dan individu di seluruh dunia.
“AYERS menawarkan produk investasi yang sesuai dengan orang Indonesia dan iklim investasi di Indonesia. Oleh karena itu kami berbeda dengan Manajemen Investasi yang lain," ujar Dastin di Jakarta, Jumat (27/4/2018) Sore.
"Program kami, disamping kita membuat produk-produk yang konvensional, kita juga membuat produk-produk yang tailor made yang sesuai untuk klien di Indonesia. Analisis yang cermat dan wawasan yang mendalam memungkinkan kami untuk secara akurat dan tepat memahami perubahan dalam ekonomi, tren sosial dan politik dan merumuskan strategi terukur untuk mengelola portofolio klien kami” ujar Dastin.
Berdasarkan penuturan Direktur Ayers Asia Asset Management, Idrus, AYERS telah meluncuran produk reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap berbasis Surat Utang Negara (SUN) sebagai produk perdana dari Ayers Asia Asset Management, kemudian dalam waktu dekat AYERS akan meluncurkan juga produk reksadana Index SRI-Kehati sebagai salah satu produk andalan.
“Kami juga akan merumuskan dan mengembangkan produk-produk yang dapat mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia sebagai alternatif investasi yang dapat memperkaya pilihan investasi bagi nasabah kami khususnya dan bagi masyarakat investor luas umumnya," kata Idrus.
"Kelas asset yang terpilih dalam setiap portofolio produk AYERS telah melalui proses seleksi yang terukur dan teruji secara fundamental oleh tim investasi kami yang dengan demikian diharapkan dapat memberikan imbal hasil yang atraktif dan optimal bagi segenap investor.” tambah Idrus.
Shareholder luar negeri yang berafiliasi dengan Ayers Asia Asset Management adalah Ayers Alliance Wealth Management. Ayers Alliance Wealth Management bekerja dengan emiten asuransi besar seperti AIA, AXA, Manulife dan Prudential.
Perusahaan ini terutama berfokus pada membantu klien untuk berinvestasi di pasar modal dengan produk asuransi dan afiliasi mereka melalui perusahaan asuransi besar. Selama bertahun-tahun Ayers Alliance Wealth Management dan afiliasinya telah membantu klien berinvestasi lebih dari US$200 juta di pasar modal dan produk asuransi.
“AYERS percaya bahwa Indonesia bisa mandiri secara ekonomi dengan responsible investment dan tailor made program yang dibuat bagi para klien. Didukung dengan para ahli yang telah berpengalaman dan jaringan kerja hingga ke luar negeri, para klien bisa mencapai pencapaian yang maksimal," tutup Dastin