INDUSTRY.co.id - Jakarta- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani membicarakan rencana kerja sama pembangunan Islam guna melahirkan para pemikir Islam moderat sekaligus meminimalisasi penyebaran paham radikal.
Puan Maharani membicarakan rencana kerja sama itu dengan Grand Sheikh Universitas Al-Azhar, Prof Dr Ahmad Mohamed Tayeb, di Kairo, Mesir, seperti dikutip melalui siaran persnya yang diterima di Jakarta, Jumat (27/4/2018)
"Pemerintah ingin mengembangkan kurikulum Islam yang moderat di Indonesia, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Perguruan Al Azhar Mesir diharapkan dapat berperan aktif dalam pengembangan kurikulum tersebut," ujar Menko PMK yang didampingi Dubes RI untuk Mesir, Helmy Fauzy, dan Deputi Menko PMK bidang Pendidikan dan Agama.
Mantan Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI itu menyatakan apresiasinya atas komitmen Perguruan Al Azhar untuk mengirim tenaga pengajarnya ke Indonesia dan menyediakan beasiswa untuk para ustadz dari Indonesia.
Saat ini, kata dia, ada sekitar 4.600 mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar.
"Banyak alumni Al Azhar menjadi tokoh masyarakat setelah kembali ke Indonesia," katanya.
Sementara itu, Grand Sheikh Al Azhar mengimbau mahasiswa Indonesia agar tidak terpengaruh pada kelompok-kelompok radikal dan gerakan yang menyimpang.
Dia juga berharap, Pemerintah Indonesia dapat memberikan beasiswa kepada 607 mahasiswa yang saat ini tinggal di luar asrama Al Azhar.
"Hal ini penting untuk memantau mahasiswa agar tidak terpengaruh kelompok-kelompok yang tidak jelas," ujar Grand Sheikh.
Grand Sheikh menyatakan, menerima undangan Menko Puan Maharani untuk membicarakan kurikulum, agar Al Azhar dapat berkontribusi pada pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) sebagai pengembangan Islam Moderat.
Universitas Islam Internasional Indonesia akan dibangun Pemerintah Indonesia di lahan 142,5 hektar dan ke depannya diharapkan menjadi pusat kajian Islam internasional dan tempat mempelajari peradaban Islam bagi seluruh mahasiswa dari dalam dan luar negeri.
Menurut Puan, kampus UIII tersebut akan membutuhkan tenaga pengajar yang kompetitif di bidangnya, sehingga terbuka peluang melakukan kerja sama dengan para ulama untuk ikut mengembangkan UIII.
Menko PMK berharap, ada orang Indonesia yang juga mendalami ilmu agama khususnya terkait dengan fatwa. "Insya Allah, Al Azhar siap mengirim dosen untuk turut mengajar di UIII agar cepat berkembang. Sangat senang bertemu dengan keluarga Bung Karno," ujar Grand Sheikh.
Pada kesempatan tersebut, Puan menyampaikan salam dan pesan dari Presiden Joko Widodo serta Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri, kepada Grand Sheikh. Ucapan terima kasih juga disampaikan atas kesediaan Grand Sheikh Al Azhar menjadi pembicara utama dalam forum "High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyat al-Islam (HLC-WMS) di Bogor, pada 1-3 Mei 2018.
"Saya sangat bahagia karena Ibu Menko berkenan hadir. Terima kasih atas undangan dari Presiden RI untuk hadir dalam pertemuan di Jakarta dan terima kasih juga atas undangan Ibu Megawati," tambah Grand Sheikh.
Grand Syeikh juga mengungkapkan kebahagiaannya bertemu cucu Presiden pertama RI Soekarno. Sebagai bentuk penghormatan membangun hubungan Indonesia-Mesir, Al Azhar telah memberikan gelar Doktor Honoris Causa pada Bung Karno.
"Saya mengenal baik Bung Karno sejak sekolah di SMA dan saya senang sekali hari ini bisa ketemu dengan cucu Bung Karno. Kita mengetahui Sukarno sebagai inisiator KTT Asia Afrika di Bandung," ujar Grand Sheikh.
Setelah menemui Grand Sheikh Al-Azhar, Menko Puan menemui tokoh Islam berpengaruh di Mesir lainnya, Grand Mufti Mesir Prof Dr Shawki Allam. Pertemuan dilakukan sebagai upaya peningkatan hubungan bilateral Indonesia-Mesir.
"Kami berharap agar Grand Mufti dapat membantu mengembangkan pemikiran Islam moderat," ucap Puan.
Menurut Puan, pengembangan pemikiran Islam moderat perlu dilakukan sejak dini dan bersama-sama dan hendaknya menjadi tanggung jawab seluruh tokoh agama Islam di dunia