INDUSTRY.co.id - Jakarta- Pergerakan pasar obligasi di awal pekan secara tren dan sentimen diperkirakan masih akan kembali cenderung variatif dimana sentimen yang ada masih akan menahan potensi pergerakan positif obligasi dalam negeri.
Analis Binaartha Institutional Research Reza Priyambada mengatakan, kembali naiknya imbal hasil obligasi AS dan laju Rupiah yang berpotensi kembali tertahan dapat menghalangi laju pasar obligasi dalam negeri untuk berbalik menguat.
"Tetap cermati pergerakan imbal hasil obligasi global selanjutnya dan sejumlah sentimen makro yang dapat mempengaruhi pasar obligasi global dan antisipasi masih adanya pelemahan lanjutan," kata dia di Jakarta, Senin (16/4/2018).
Ia katakan spread yield obligasi Indonesia dan US treasury tenor 10Y diperkirakan masih akan bergerak di kisaran 385-388 bps yang menandakan masih adanya risiko dari sentimen makroekonomi. Diperkirakan rentang imbal hasil obligasi SUN internal akan berada dalam kisaran ± 5-7,5 bps (5,20%-7,44%). Tetap cermati berbagai sentimen yang dapat membuat pasar obligasi kembali melemah.
Di pekan kemarin, secara mingguan pergerakan imbal hasil variatif cenderung turun. Pergerakan yield untuk masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) rata-rata mengalami kenaikan imbal hasil 6,77 bps; tenor menengah (5-7 tahun) turun -0,57 bps; dan panjang (8-30 tahun) turun 2,20 bps.
Pada obligasi korporasi, lanjut dia, masih cenderung bergerak variatif. Imbal hasil obligasi dengan dengan rating AAA yang di pekan sebelumnya di kisaran 8,25%-8,35% untuk tenor 9-10 tahun namun, di pekan kemarin bergerak di 8,20%-8,30%.
"Pada rating AA, di level di level 9,00%-9,02% dari sebelumnya 8,98%-9,00%; rating A naik tipis di kisaran 10,01%-10,03% dari sebelumnya 10,00%-10,07%; dan pada rating BBB dirilis di 12,92%-12,98% dari sebelumnya 12,92%-12,96%. Dari sisi makroekonomi, laju pasar obligasi banyak dipengaruhi kondisi eksternal," katanya.