INDUSTRY.co.id - Jakarta - Berdasarkan data yang disampaikan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terkait Rencana Pengembangan Kuliner Indonesia, sektor kuliner Indonesia sesungguhnya mempunyai potensi besar untuk berkembang lebih pesat apabila memiliki identitas kuliner lokal yang kuat dan tidak terpengaruh popularitas kuliner asing.

Advertisement

Selain itu, data yang dirilis Kementerian Perindustrian pada 2017 kemarin menunjukkan bahwa industri kuliner merupakan salah satu penyumbang PDB terbesar di sektor non-migas sebesar 34,95 persen.

Oleh karena itu, Berkraf tentunya mendukung penuh memajukan sektor kuliner Indonesia ke luar negeri. Kopi dan soto, telah terpilih sebagai kuliner yang dijagokan Bekraf untuk bisa diterima di luar negeri.

Advertisement

"Kenapa kopi dan soto? Karena menurut Bekraf itu yang bisa diterima di luar negeri. Kalau kopi, jelas bahwa kopi Indonesia sudah sangat meluas dan Indonesia menempati urutan keempat negara penghasil kopi terbesar. Selain itu, soto, kalau di luar negeri sama halnya dengan soup, kan. Lebih general," ungkap Hanifah Makarim, Kasubdit Dana Masyarakat Direktorat Akses Non Perbankan Deputi Akses Permodalan Bekraf, saat ditemui Industry.co.id di acara Incubator Camp Blue Band Master pada hari Selasa (10/4) kemarin.

Hanifah menambahkan, terlebih lagi budaya minum kopi sudah ada sejak lama sebelum coffee shop bermunculan di Indonesia.

Advertisement

Sementara itu, Bekraf sendiri belum memberitahu pasti mengenai soto apa yang Bekraf jagokan nanti.

"Dari 40 jenis soto di Indonesia, kita masih melakukan seleksi kira-kira soto apa yang menjadi andalan Bekraf untuk ke luar negeri," tutup Hanifah.

Advertisement